Setidaknya 21 orang tewas dalam serangan yang diduga dilakukan oleh pemberontak Allied Democratic Forces (ADF) di provinsi Ituri, timur Republik Demokratik Kongo.
Serangan itu, yang terjadi di desa Biakato di wilayah Mambasa, juga membuat beberapa orang hilang, menurut asisten administrator wilayah itu, Kolonel Maxime Tshishimbi.
Jumlah korban tewas naik dari 15 pekan lalu menjadi 21 setelah jenazah tambahan ditemukan pada hari Minggu menyusul pencarian.
Tshishimbi mengatakan angkatan bersenjata Kongo telah melancarkan perburuan terhadap para penyerang di tempat perlindungan mereka, dan mendesak masyarakat untuk bekerja sama dengan militer.
Para pemberontak juga membakar harta benda, termasuk sepeda motor dan rumah, sebelum menculik beberapa warga sipil yang sedang pulang dari kebun mereka.
Kelompok pemberontak itu, yang telah aktif di timur Kongo selama beberapa tahun, berafiliasi dengan organisasi militan Daesh.
Timur Kongo menghadapi ketidakamanan yang disebabkan oleh beberapa kelompok bersenjata selama hampir tiga dekade, dengan ribuan orang tinggal di kamp-kamp di Kivu Utara dan Ituri.
Minggu lalu, Amnesty International mengatakan dalam sebuah laporan bahwa warga sipil menderita lonjakan pelanggaran hak asasi manusia yang jumlahnya mencapai kejahatan perang.
Laporan itu menyatakan kejahatan-kejahatan tersebut dilakukan di wilayah yang luas sementara perhatian tertumpu pada pemberontak M23, kelompok lain di timur.
"Warga sipil di timur Republik Demokratik Kongo (DRC) telah mengalami kebrutalan yang meluas di tangan para pejuang ADF. Mereka telah dibunuh, diculik, dan disiksa dalam sebuah kampanye penyiksaan yang merendahkan kemanusiaan," kata Agnes Callamard, Sekretaris Jenderal Amnesty International.
Sejak 2021, pasukan Uganda dan Kongo telah melakukan operasi bersama melawan para pemberontak.
















