Harga minyak turun seiring dengan melemahnya bursa saham pada Rabu (22/4), ketika investor menilai peluang perundingan damai AS–Iran setelah Donald Trump pada menit terakhir memperpanjang gencatan senjata, namun tetap mempertahankan blokade di Selat Hormuz.
Dengan gencatan senjata dua minggu yang memasuki jam-jam terakhir, presiden AS itu mengatakan akan menunda tenggat waktu tanpa batas setelah permintaan dari mediator Pakistan, sembari menekankan perlunya memberi waktu bagi kepemimpinan Iran yang disebutnya “terpecah” untuk menyusun proposal.
Sebelumnya, ia sempat menyatakan tidak akan memperpanjang gencatan senjata dan mengancam akan melanjutkan pengeboman terhadap republik Islam tersebut setelah masa berlaku habis.
“Saya telah… menginstruksikan militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam semua hal lainnya, tetap siap dan siaga, dan karena itu akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka (Iran) diajukan,” tulis Trump di media sosial.
Keputusan untuk tidak melancarkan serangan baru ke Iran, namun tetap mencegah kapal-kapalnya melintasi Selat Hormuz — titik perselisihan utama antara kedua pihak — membuat pelaku pasar menunggu perkembangan yang lebih jelas.
Masa depan pembicaraan damai di Islamabad kembali menjadi tanda tanya, dengan seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Wakil Presiden JD Vance tidak akan melakukan perjalanan pada hari Selasa seperti yang direncanakan sebelumnya, sambil menunggu pengajuan proposal Iran.
Teheran menyatakan tidak akan hadir karena apa yang disebutnya sebagai tuntutan AS yang tidak masuk akal, sementara kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan tidak ada prospek pejabat akan berangkat dalam waktu dekat.
Christopher Wong, analis strategi di Oversea-Chinese Banking Corp, mengatakan: “AS dan Iran mungkin sedang berupaya memperkuat posisi tawar dan memainkan permainan siapa yang akan berkedip lebih dulu.”
“Apapun hasilnya, ketidakpastian di masa transisi ini bisa menekan selera risiko, tetapi ketika salah satu pihak mengalah, aset berisiko bisa menguat,” tambahnya.
Kedua kontrak utama minyak melemah, meski sempat berfluktuasi pada perdagangan awal, setelah naik sekitar tiga persen pada Selasa.
Pasar saham juga mayoritas berada di zona merah setelah hari negatif lainnya di Wall Street.
Hong Kong, Sydney, Singapura, Seoul, dan Wellington melemah, sementara Shanghai bergerak datar. Tokyo, Taipei, dan Wellington justru menguat.
Para pelaku pasar masih kesulitan menemukan arah pekan ini setelah Teheran pada Jumat mengatakan akan mengizinkan kapal melintas di Selat Hormuz — yang sebelumnya praktis ditutup sejak perang dimulai pada 28 Februari — sebelum kemudian menarik kembali pernyataan tersebut sehari kemudian, dengan alasan blokade AS dan penyitaan kapal.
Donald Trump juga menuduh Iran melanggar gencatan senjata dengan mengganggu kapal-kapal di jalur perairan tersebut, yang merupakan jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Perkembangan ini membuat harga minyak bergejolak tajam, meski masih bertahan di bawah level US$100, sementara pasar saham relatif lebih stabil karena optimisme bahwa kedua pihak pada akhirnya akan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik tujuh minggu yang telah mengguncang ekonomi global.
“Dengan pasar yang melonjak karena optimisme perang akan segera berakhir dan Selat Hormuz akan dibuka, kini pasar menjadi lebih berhati-hati,” tulis analis FOREX.com, Fawad Razaqzada.
“Jika tidak ada kesepakatan, saya memperkirakan harga minyak bisa kembali naik di atas US$100, yang kemungkinan akan memberi tekanan pada pasar saham.”
Investor juga mencermati sidang konfirmasi senator terhadap Kevin Warsh, pilihan Trump untuk menggantikan Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir bulan depan.
Warsh menegaskan tidak akan berada di bawah kendali presiden saat menjawab pertanyaan terkait aset dan independensi bank sentral dalam sidang tersebut.
Mantan gubernur The Fed itu menekankan komitmennya untuk “memastikan bahwa pelaksanaan kebijakan moneter tetap sepenuhnya independen.”
Trump, sejak kembali menjabat tahun lalu, telah mengkritik keras Powell karena dinilai tidak cukup agresif memangkas suku bunga, dan kepada CNBC pada Selasa mengatakan akan kecewa jika ketua baru tidak segera menurunkan biaya pinjaman.








