Pemerintah China menyambut positif usulan Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengenai penguatan kolaborasi rantai pasok dan industrialisasi di antara negara-negara anggota blok BRICS.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan komitmen Beijing untuk memperdalam kerja sama teknologi dan menyelaraskan sektor industri bersama para anggota. "China akan memperkuat kerja sama teknologi dengan negara-negara BRICS, memperdalam penyelarasan industri, melaksanakan proyek-proyek peningkatan kapasitas, serta mewujudkan pembangunan yang lebih berkelanjutan," ujar Guo dalam konferensi pers di Beijing, Senin (14/9).
Pernyataan tersebut merespons pidato Presiden Prabowo pada sesi kedua KTT ke-18 BRICS di New Delhi, India, Minggu (13/9). Dalam forum itu, Prabowo mengajak negara-negara berkembang untuk mengoptimalkan potensi sumber daya dan kapasitas produksi secara kolektif demi menghadapi tantangan ekonomi global.
"Biarkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Biarkan kita industrialisasi bersama-sama dan biarkan kita mengoptimalkan sumber daya serta kapasitas yang kita tanggung bersama-sama," tegas Prabowo di hadapan para pemimpin BRICS.
Menurut Prabowo, Indonesia memiliki posisi strategis lewat kekayaan mineral kritis, logam tanah jarang, dan energi terbarukan yang menjadi modal utama pengembangan teknologi bersih masa depan. Mengingat isu rantai pasok dialami secara merata oleh negara-negara Global South, kolaborasi pasar dan kemampuan teknologi menjadi kunci peningkatan investasi serta pembukaan lapangan kerja baru.
Guo Jiakun menambahkan bahwa BRICS telah lama berfokus pada agenda ini, salah satunya melalui pembentukan BRICS Partnership on New Industrial Revolution Innovation Center dan BRICS Centre of Industrial Competencies.
KTT BRICS ke-18 tahun ini berfokus pada empat pilar utama: ketahanan (resilience), inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan (sustainability). Blok yang kini beranggotakan 11 negara—termasuk pendatang baru seperti Mesir, Ethiopia, Iran, dan Arab Saudi—mencakup 49,5 persen populasi dunia serta menyumbang sekitar 40 persen dari PDB global.























