Pemerintah Indonesia berencana mengimpor sekitar 100.000 tabung gas alam terkompresi (compressed natural gas/CNG) dalam tiga bulan ke depan sebagai bagian dari proyek uji coba penggantian tabung LPG subsidi 3 kilogram.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, mengatakan pengadaan awal dalam jumlah besar diperlukan karena produksi tabung CNG membutuhkan skala ekonomi tertentu.
“Tabung yang diimpor nantinya akan diuji sebelum diterapkan lebih luas. Kami menargetkan pengujian bisa dimulai satu hingga dua bulan setelah barang tiba,” ujarnya, dikutip Xinhua.
Ia menegaskan aspek keselamatan menjadi perhatian utama dalam proyek ini, mengingat CNG bekerja pada tekanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan LPG konvensional.
Indonesia saat ini masih mengimpor sekitar 7 juta ton LPG per tahun, dengan nilai devisa dan subsidi energi mencapai lebih dari 130 triliun rupiah (sekitar 7,9 miliar dolar AS) setiap tahun.
Pemerintah menilai pengembangan CNG sebagai alternatif LPG menjadi salah satu langkah untuk menekan ketergantungan impor energi serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Indonesia incar tabung CNG buatan China untuk dukung transisi dari LPG
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, mengatakan Indonesia saat ini belum memiliki teknologi untuk memproduksi tabung CNG kecil yang mampu menahan tekanan tinggi.
“Sejauh ini teknologinya masih ada di luar negeri. Kita belum mampu memproduksinya sendiri,” kata Laode di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (17/5), seperti dilaporkan Antara.
Saat ditanya soal calon pemasok, Laode menyebut pemerintah saat ini “cenderung ke China” untuk tahap awal pengadaan.
Ia menjelaskan impor hanya dilakukan pada tahap awal program transisi energi rumah tangga, sementara produksi dalam negeri akan dikembangkan jika skala penggunaan sudah ekonomis.
Menurut dia, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi impor energi, dengan implementasi yang direncanakan mulai tahun ini.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia sudah mengenal penggunaan CNG di sektor hotel, restoran, dan program makan bergizi gratis pemerintah.
Namun, ia menegaskan penggunaan saat ini masih terbatas pada tabung berukuran 10–20 kilogram.
Bahlil menjelaskan tantangan utama ada pada tekanan penyimpanan CNG yang mencapai sekitar 250 bar, jauh lebih tinggi dibanding LPG yang hanya 5–10 bar.
Pemerintah berencana bertahap mengalihkan konsumsi rumah tangga dari LPG ke CNG dengan memanfaatkan cadangan gas domestik yang besar.
Ia juga menyebut rencana ini berkaitan dengan temuan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang diharapkan mendukung kebutuhan energi nasional ke depan.
















