Pemerintah Indonesia mengundang perusahaan-perusahaan China untuk berinvestasi dalam proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt (GW), sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi dan pengembangan industri hijau.
Ajakan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat bertemu Menteri Perdagangan China Wang Wentao dalam pertemuan bilateral di Shanghai, Jumat (18/7).
Target pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW merupakan inisiatif Presiden Prabowo Subianto untuk mendukung transisi energi sekaligus memperkuat program hilirisasi industri. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan proyek tersebut rampung pada 2029.
"Indonesia mengapresiasi investasi China dalam pembangunan PLTS Terapung Cirata. Proyek ini menunjukkan besarnya potensi kerja sama Indonesia dan China dalam mendukung transisi energi, pengembangan energi bersih, serta pencapaian target pengurangan emisi," kata Airlangga dalam keterangan resmi, Sabtu (19/7).
Airlangga menilai industri panel surya di Indonesia masih memiliki ruang untuk terus berkembang. Menurutnya, peningkatan investasi akan memperkuat rantai pasok domestik sehingga industri PLTS nasional menjadi lebih terintegrasi.
Kerja sama perdagangan dan investasi diperkuat
Dalam pertemuan tersebut, Airlangga juga menyoroti posisi China sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. Nilai perdagangan kedua negara pada 2025 mencapai US$154,6 miliar, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 7,24 persen selama periode 2021–2025.
Di bidang investasi, China juga menjadi salah satu dari tiga investor asing terbesar di Indonesia. Sepanjang 2025, investasi asal China mencapai hampir US$8,1 miliar, atau sekitar 13 persen dari total investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI), yang sebagian besar mengalir ke sektor manufaktur, perdagangan, energi, properti, serta transportasi dan pergudangan.
Kedua negara turut membahas penguatan kerja sama melalui skema Two Countries Twin Parks (TCTP), perluasan akses pasar untuk menyeimbangkan perdagangan bilateral, serta dukungan China terhadap upaya Indonesia menjadi tuan rumah Sekretariat Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Menjelang pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2026 di China, Airlangga juga menyampaikan dukungan Indonesia terhadap keketuaan China. Ia berharap kedua negara dapat segera mengidentifikasi proyek-proyek prioritas yang akan diumumkan dalam pertemuan para pemimpin kedua negara mendatang.




















