PERANG GAZA
4 menit membaca
Pembantaian 'diam-diam' Israel terhadap anak-anak Palestina melalui blokade bantuan ke Gaza
Yahya al-Najjar menjadi anak ke-75 yang meninggal karena kelaparan atau kekurangan akses susu formula di Gaza, Palestina, menurut Euro-Med Human Rights Monitor.
Pembantaian 'diam-diam' Israel terhadap anak-anak Palestina melalui blokade bantuan ke Gaza
Seorang wanita menangis sambil memeluk jenazah Yahya al-Najjar, bayi berusia empat bulan yang meninggal karena kekurangan gizi parah di Gaza. / AA

Yahya al-Najjar, bayi berusia tiga bulan, meninggal di sebuah rumah sakit di Gaza setelah empat hari tanpa susu formula. Ia hanya bertahan hidup dengan minuman teh adas manis, dalam kasus yang mencerminkan krisis kelaparan yang semakin parah dan mengancam ribuan anak-anak di wilayah yang terkepung itu.

Orang tua Yahya mengatakan mereka telah mencari susu formula dan suplemen nutrisi, namun tidak menemukan apa-apa. Akhirnya, mereka terpaksa memberinya teh adas — minuman herbal yang umum di wilayah tersebut — dalam upaya putus asa untuk mempertahankan nyawanya.

Tubuh Yahya yang kurus kering segera menunjukkan tanda-tanda malnutrisi parah, termasuk perut buncit dan tulang rusuk yang terlihat jelas, hingga ia dirawat di ruang perawatan intensif. Namun, ia meninggal karena kelaparan pada Sabtu malam, menurut kesaksian warga.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan pada Minggu bahwa blokade Israel, yang sejak Oktober 2023 membatasi masuknya bantuan kemanusiaan, telah menyebabkan kematian 86 warga Palestina — 76 di antaranya adalah anak-anak — akibat kelaparan dan malnutrisi.

Kementerian itu menambahkan bahwa 18 orang tewas karena kelaparan hanya dalam 24 jam terakhir, dan menyebut situasi ini sebagai “pembantaian sunyi” yang terjadi di bawah pengepungan berkepanjangan.

Teh adas menggantikan susu formula

Ibu Yahya mengatakan pada Minggu bahwa selama empat hari terakhir hidupnya, bayi itu hanya mengonsumsi air dan teh adas karena formula tidak tersedia.

“Dia terus mengisap tangannya sepanjang waktu,” katanya sambil menangis, menggambarkan rasa lapar yang tampak jelas pada anaknya.

Ia mengatakan para dokter mendiagnosis Yahya mengalami malnutrisi setelah ia membawanya ke rumah sakit dengan gejala diare dan perut bengkak. Tak lama setelah itu, kadar gula darahnya menurun drastis, dan kondisinya memburuk dengan cepat.

Dokter mengatakan kepada keluarga bahwa Yahya sangat membutuhkan susu formula untuk bertahan hidup. Namun sejak semua perbatasan ditutup untuk barang bantuan dan komersial pada 2 Maret, susu formula benar-benar menghilang dari pasaran di Gaza.

Sang ibu menambahkan bahwa sebelumnya Yahya sempat dirawat di rumah sakit dan mendapat susu formula dari fasilitas tersebut, yang sempat membuat kondisinya membaik. Namun setelah pasokan itu habis, kondisinya kembali memburuk.

‘Meninggal karena malnutrisi’

Paman Yahya, Anan al-Najjar, juga mengatakan bahwa sejak lahir, bayi itu hanya mengonsumsi air dan teh adas karena kelangkaan susu formula yang terus berlanjut.

“Selama tiga bulan ini, tidak ada susu formula di Gaza,” ujarnya pada Minggu. “Apa salah anak ini sampai harus meninggal hanya karena susu tidak bisa masuk ke Gaza?”

Ia mengatakan Yahya tidak memiliki penyakit lain selain malnutrisi. Ibunya, yang juga mengalami kekurangan gizi, tidak mampu menyusui, dan tidak ada alternatif lain yang tersedia.

Ia menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera bertindak dan mengirimkan susu formula ke Gaza guna mencegah lebih banyak kematian.

Dibalut kafan putih, Yahya digendong oleh ayahnya, Fadi al-Najjar, menuju makam — tubuh kecilnya tak mengenakan pakaian baru yang biasanya digunakan untuk bayi. Ayahnya, yang dirundung duka mendalam, tak mampu berkata apa-apa dan hanya menangis dalam diam saat menguburkan putranya.

‘Tumbang karena kelaparan’

Lembaga pemantau menambahkan bahwa kelaparan kini memengaruhi semua kelompok usia di Gaza, dengan “ratusan anak, perempuan, dan lansia tumbang karena kelaparan parah”.

“Hanya tinggal menunggu waktu sebelum kita menyaksikan kematian massal akibat kelaparan,” mereka memperingatkan.

Dalam sepekan terakhir, aktivis Palestina mendokumentasikan orang-orang yang pingsan di jalan karena kelaparan. Para jurnalis yang melaporkan dari Gaza juga mengonfirmasi telah menyaksikan banyak kasus seperti itu — bahkan ikut merasakan efek dari kelaparan itu sendiri.

Sejak 2 Maret, Israel menutup seluruh jalur masuk ke Gaza, menghentikan pengiriman makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan.

Menurut Kantor Media Pemerintah di Gaza, sekitar 650.000 anak terancam meninggal karena kelaparan dan malnutrisi, dan sekitar 60.000 ibu hamil menghadapi risiko serius akibat kelangkaan makanan dan layanan kesehatan dasar.

Israel telah menewaskan lebih dari 59.000 warga Palestina — sebagian besar perempuan dan anak-anak — di Gaza sejak Oktober 2023. Kampanye militer tersebut telah menghancurkan wilayah itu, melumpuhkan sistem kesehatan, dan menyebabkan kekurangan pangan yang parah.

SUMBER:AA
Jelajahi
BAZNAS terima infak Rp600 juta untuk Palestina, total donasi LAZ SIP capai Rp1,2 miliar
Netanyahu ingin hentikan bantuan militer AS ke Israel, strategi baru atau sekadar ganti istilah?
Armada Global Sumud tiba di Marmaris Türkiye setelah dihadang oleh Israel
Pemukim ilegal Israel serbu kompleks Al-Aqsa saat upacara militer digelar
Israel menggunakan bukti rahasia dan tuduhan terorisme untuk memenjarakan aktivis flotilla
Armada Global Sumud terus jalankan misi ke Gaza melalui perairan Yunani, lebih banyak kapal akan bergabung
PBB mendesak Israel untuk 'segera' membebaskan dua aktivis armada Gaza Global Sumud
Aktivis Palestine Action divonis bersalah usai menghancurkan peralatan pabrik pertahanan Israel
Indonesia kecam intersepsi Israel terhadap armada bantuan Global Sumud ke Gaza
Israel akan akuisisi jet tempur F-35 dan F-15IA di tengah rencana untuk melanjutkan genosida Gaza
Israel lakukan “penyiksaan sistematis” terhadap aktivis yang ditahan: Global Sumud Flotilla
Sniper Israel tembak calon pengantin Palestina di Gaza, 10 hari jelang pernikahan
Badan PBB sebut UU hukuman mati Israel medorong diskriminasi rasial untuk warga Palestina
Setelah dibajak Israel, aktivis Global Sumud Gaza yang diculik akan dibawa ke Yunani
Aktivis dari konvoi bantuan Gaza turun di Kreta setelah diculik oleh Israel
20 WN Türkiye diantara 170+ aktivis armada Gaza Global Sumud yang ditahan Israel
Apakah Israel telah memenangkan peperangan apa pun sejak Oktober 2023?
Türkiye kecam pencegatan konvoi Global Sumud ke Gaza oleh Israel sebagai 'tindakan pembajakan'
Kontingen Indonesia bertolak ke Türkiye untuk bergabung dengan armada Global Sumud Flotilla 2.0
Indonesia dan Australia perkuat kerja sama pembangunan pendidikan di Palestina