DUNIA
3 menit membaca
Perang AS-Israel dan Iran picu lonjakan tarif kargo udara global hingga 70 persen: Laporan
Tarif kargo udara global melonjak hingga 70 persen setelah perang AS–Israel melawan Iran mengganggu penerbangan dan pengiriman laut di Timur Tengah. Penutupan wilayah udara serta gangguan di hub kargo menjadi alasan utama.
Perang AS-Israel dan Iran picu lonjakan tarif kargo udara global hingga 70 persen: Laporan
Pesawat Emirates dan Qatar Airways terparkir di landasan pacu Bandara Sydney Kingsford Smith di Sydney.. / Reuters
2 jam yang lalu

Lonjakan tarif kargo udara terjadi di sejumlah rute global setelah pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Gangguan penerbangan, hambatan pengiriman laut, serta kenaikan tajam harga bahan bakar pesawat mendorong tarif pada beberapa jalur melonjak hingga sekitar 70 persen.

Menurut laporan analisis Reuters pada Jumat (13/03), rute antara Asia Selatan dan Eropa menjadi yang paling terdampak oleh penutupan wilayah udara Timur Tengah dan risiko keamanan di kawasan tersebut. 

Situasi ini terjadi setelah lebih dari 100 kapal kontainer terjebak di sekitar Selat Hormuz, jalur ekspor minyak penting dunia, sehingga sebagian perusahaan mulai mengalihkan pengiriman dari laut ke udara.

Pakar rantai pasok farmasi Prashant Yadav mengatakan obat generik dari India—yang biasanya dikirim melalui kapal menuju Uni Eropa, Afrika, serta sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab—mulai dialihkan ke jalur udara.

“Perubahan utama yang saya dengar adalah perusahaan memindahkan obat generik dari pengiriman laut ke kargo udara,” kata Yadav, peneliti senior di Council on Foreign Relations kepada Reuters.

Perubahan ini berpotensi berdampak luas karena kargo udara menangani sekitar sepertiga nilai perdagangan global. Lonjakan tarif dapat menambah tekanan inflasi pada berbagai barang, mulai dari makanan segar hingga produk farmasi dan elektronik.

Steve Blough, kepala strategi rantai pasok di perusahaan perangkat lunak logistik Infios, mengatakan pengiriman udara jauh lebih mahal dibandingkan pengiriman laut. 

“Pelanggan memindahkan barang dari laut ke udara, tetapi biayanya sangat tinggi—biasanya lima hingga sepuluh kali lipat—dan biaya itu terus meningkat karena kapasitas semakin ketat,” ujarnya.

TerkaitRibuan penumpang di Bandara Bali terdampak pembatalan penerbangan ke Timur Tengah - TRT Indonesia - TRT Indonesia

Lonjakan harga BBM jet

Sementara itu, harga bahan bakar jet dilaporkan melonjak dua kali lipat sejak konflik dimulai. Perusahaan pelayaran kontainer asal Denmark, Maersk, pekan ini mengatakan layanan kargo udaranya kini mengenakan biaya tambahan bahan bakar serta pungutan risiko perang.

Penutupan ruang udara juga memaksa pesawat kargo dan penerbangan penumpang mengambil rute yang lebih panjang untuk menghindari zona konflik, sehingga mengurangi kapasitas pengangkutan dan menambah tekanan pada tarif.

Hub kargo udara utama seperti Dubai dan Doha turut terdampak oleh konflik tersebut. 

Niall van de Wouw, kepala kargo udara di platform harga transportasi Xeneta, mengatakan lonjakan tarif lebih dipicu oleh “penurunan kapasitas yang dramatis” di pusat transshipment Timur Tengah dibandingkan kenaikan harga bahan bakar.

CEO Cathay Pacific Airways, Ronald Lam, mengatakan banyak penerbangan kargo menuju Eropa biasanya singgah di Dubai untuk mengisi bahan bakar dan mengambil muatan tambahan.

“Namun karena situasi di Dubai, kami melewati pemberhentian itu dan terbang langsung dari Hong Kong ke Eropa dengan pembatasan muatan karena tidak bisa mengisi bahan bakar di tengah perjalanan,” katanya dalam panggilan laporan keuangan, menurut Reuters.

Mengutip laporan yang sama dari Reuters, Data indeks kargo udara dari platform Freightos menunjukkan tarif spot Asia Selatan–Eropa melonjak sekitar 70 persen menjadi 4,37 dolar AS per kilogram dari 2,57 dolar sebelum perang. 

Tarif Asia Selatan–Amerika Utara naik 58 persen menjadi 6,41 dolar per kilogram, sementara rute Eropa–Timur Tengah meningkat 55 persen menjadi 2,79 dolar per kilogram.

Namun Judah Levine, kepala riset Freightos, mengatakan kenaikan tarif mulai melambat dalam beberapa hari terakhir. 

Menurutnya, maskapai Asia dan Eropa mulai menambah kapasitas pada rute jarak jauh untuk menutup kekurangan kapasitas dari maskapai Teluk, sementara beberapa operator kawasan tersebut—terutama Emirates—mulai kembali meningkatkan jumlah penerbangan di hub-hub utama kawasan.

TerkaitTRT Indonesia - Garuda Indonesia hentikan sementara penerbangan ke dan dari Doha
SUMBER:Reuters