Gelombang demonstrasi berlangsung di sejumlah kota di Indonesia pada Selasa (20/10), ketika mahasiswa dan masyarakat sipil menuntut penanganan lebih serius terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap beracun.
Krisis yang berlangsung selama berbulan-bulan itu telah mengganggu kesehatan, pendidikan, dan kegiatan ekonomi masyarakat, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang genap dua tahun menjabat.
Aksi digelar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Pekanbaru, dan Makassar. Para demonstran mengkritik penanganan kebakaran yang dinilai belum efektif, serta menyoroti dugaan korupsi dan lemahnya pengawasan terhadap pihak yang bertanggung jawab atas pembakaran lahan.
Di Jakarta, mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam Komite Sadar (Seruan Kedaulatan Rakyat) berkumpul di kawasan Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat. Berbeda dari sejumlah aksi sebelumnya, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dan kampus lainnya memilih tidak mengenakan jas almamater untuk menunjukkan solidaritas dengan masyarakat luas.
Polisi menahan enam aktivis Greenpeace pada Selasa pagi setelah mereka membentangkan spanduk di sebuah monumen di Bundaran HI, Jakarta. Spanduk tersebut menyebut kabut asap sebagai bencana nasional dan mengaitkannya dengan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Lima tuntutan utama
Demonstran menyampaikan lima tuntutan, termasuk penetapan karhutla dan banjir sebagai bencana nasional, pemulihan kesehatan warga, serta penindakan terhadap perusahaan penyebab kebakaran. Mereka juga mendesak perbaikan kebijakan ekonomi, pemulihan kepercayaan pasar, dan penghentian pembatasan kebebasan berpendapat.
Selain itu, massa menuntut pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta penurunan biaya pendidikan, kesehatan, dan layanan publik. Mereka turut meminta pemerintah menjamin pemerataan akses terhadap layanan dasar bagi seluruh masyarakat.
Para demonstran juga menuntut pencabutan izin perusahaan yang terbukti bertanggung jawab atas kebakaran, serta meminta pemerintah menjamin pemulihan bagi masyarakat terdampak.
Massa turut mengangkat simbol tiga jari sebagai ekspresi kemarahan dan kekecewaan terhadap kepemimpinan yang mereka nilai gagal memenuhi kebutuhan masyarakat. Aksi sempat meluas ke Jalan Menteng Raya setelah orator mengajak demonstran bergerak dari area monumen ke badan jalan, sehingga lalu lintas di sebagian ruas tersebut tersendat.




















