Indonesia kembali menegaskan dukungannya terhadap peran Türkiye di kawasan Asia Tenggara menjadi mitra strategis yang lebih luas dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) di Cebu, Filipina, Kamis (7/5).
Menteri Luar Negeri RI Sugiono secara terbuka menegaskan kembali komitmen Jakarta untuk mendorong Ankara menjadi mitra dialog penuh ASEAN, di tengah pembahasan arah kerja sama eksternal organisasi tersebut.
Dalam sesi yang juga menyinggung ASEAN Regional Forum (ARF), Sugiono menilai perlunya pendekatan yang lebih strategis terhadap moratorium mitra dialog.
Ia memandang perluasan kemitraan, termasuk dengan Türkiye, dapat memperkuat posisi ASEAN dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Traktat persahabatan ASEAN (TAC)
Selain isu tersebut, Sugiono juga mendorong percepatan proses aksesi Treaty of Amity and Cooperation (TAC) atau traktat persahabatan ASEAN, yang dinilai menjadi indikator kepercayaan mitra internasional terhadap ASEAN.
Menurutnya, meningkatnya jumlah negara yang bergabung dalam TAC mencerminkan posisi ASEAN sebagai kawasan yang stabil dan dapat diandalkan.
"Di dunia yang semakin bergejolak, ASEAN tetap menjadi mitra yang terpercaya, stabil, dan dapat diandalkan; yang ditunjukkan oleh meningkatnya jumlah aksesi ke TAC. Kita juga harus mempercepat prosesnya karena sangat jelas bahwa ASEAN dipercaya oleh mitra eksternal kita," ujar Sugiono.
Ia menambahkan, TAC tidak hanya berfungsi sebagai kerangka normatif, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk memperluas kerjasama konkret dengan berbagai negara mitra. Dalam konteks ini, pendekatan inklusif ASEAN dinilai tetap relevan untuk mendorong keterlibatan eksternal yang lebih konstruktif.
Pertemuan AMM tersebut merupakan bagian dari rangkaian agenda menjelang KTT ASEAN ke-48 yang berlangsung Jumat (8/5). Filipina sebagai tuan rumah KTT ASEAN 2026 mengangkat tema “Menavigasi Masa Depan Kita, Bersama”, dengan fokus pada penguatan kohesi internal dan kemitraan eksternal.
Tahun ini, ASEAN juga memperingati 50 tahun TAC, yang telah menjadi fondasi utama bagi perdamaian dan stabilitas kawasan. Hingga kini, sebanyak 57 negara telah menandatangani perjanjian tersebut, termasuk Aljazair dan Uruguay yang bergabung pada 2025.








