TÜRKİYE
3 menit membaca
Koridor maritim bisa berubah jadi medan pertempuran, Menlu Türkiye Fidan memperingatkan
Menlu Türkiye tersebut menyatakan bahwa gangguan di titik-titik sempit jalur pelayaran dapat mengancam perekonomian, seraya memperingatkan adanya risiko terhadap ketahanan pangan dan energi global.
Koridor maritim bisa berubah jadi medan pertempuran, Menlu Türkiye Fidan memperingatkan
Fidan saat berpidato pada TRT World Forum ke-10 tahun 2026 di Istanbul, Türkiye, 7 November 2026./AA

Menteri Luar Negeri Türkiye, Hakan Fidan, memperingatkan bahwa “koridor maritim bisa berubah menjadi medan pertempuran, dan jalur pipa bisa menjadi instrumen tekanan”. Ia menyoroti bagaimana ketidakamanan di sepanjang rute perdagangan vital mengancam perekonomian yang berada jauh di luar zona konflik.

Berbicara dalam forum TRT World Forum pada hari Sabtu (7/11), dalam sesi bertajuk “Geopolitik Baru Konektivitas: Jalur Laut, Titik-titik Krusial (Chokepoints), dan Koridor”, Fidan menyatakan bahwa meningkatnya konektivitas global juga membuat berbagai negara rentan terhadap gangguan di titik-titik transit yang krusial.

“Satu titik krusial saja dapat memengaruhi perekonomian yang berjarak ribuan kilometer jauhnya. Dalam situasi seperti ini, konektivitas itu sendiri bisa menjadi masalah strategis,” ujarnya.

Fidan mengatakan bahwa serangan terhadap kapal-kapal komersial dan gangguan pada perdagangan maritim telah merusak stabilitas kawasan serta menghambat arus bebas barang. Hal ini membawa konsekuensi yang sangat serius, terutama bagi negara-negara yang memang sudah menghadapi kerawanan pangan.

“Dampaknya meluas hingga ke luar kawasan tersebut. Hal ini menjadi ancaman besar bagi ketahanan pangan global, khususnya bagi negara-negara yang rentan,” katanya.

Beralih ke Timur Tengah, Fidan memperingatkan bahwa ketidakamanan di sekitar dua titik krusial maritim dunia telah menghambat pasokan energi dan berdampak pada perekonomian global secara lebih luas.

“Meningkatnya ketidakamanan serta perkembangan situasi di Bab al-Mandab dan Selat Hormuz turut mengganggu arus energi yang vital. Gangguan di sepanjang rute-rute maritim ini telah memengaruhi perekonomian global, serta ketahanan pangan dan energi,” ujarnya.

Mencegah eskalasi lebih lanjut

Fidan mengaitkan ancaman terhadap perdagangan maritim dengan ketegangan regional yang lebih luas, seraya menunjuk pada kebijakan Israel serta serangan-serangan yang terus berlanjut.

“Hambatan-hambatan ini merupakan bagian dari dinamika regional yang lebih luas. Israel menjalankan kebijakan ekspansionis dan terus melancarkan serangan terhadap negara-negara tetangga. Mereka juga terus melakukan genosida di Palestina,” ujarnya.

Ia menekankan perlunya mencegah ketegangan agar tidak meningkat lebih jauh, serta menjaga peran kawasan tersebut dalam perdagangan global dan pasokan energi.

“Mencegah eskalasi lebih lanjut adalah hal yang esensial. Menjamin keamanan kawasan ini—yang menjadi tumpuan ekonomi global—merupakan langkah yang sangat vital,” kata Fidan.

Mengamankan akses ke pasar

Fidan juga memperingatkan bahwa ketergantungan pada sejumlah rute yang terbatas dapat mengubah hubungan ekonomi menjadi sumber tekanan strategis.

Dengan merujuk pada Laut Hitam, ia menggambarkan bagaimana infrastruktur transportasi bisa terseret ke dalam konflik; koridor maritim berubah menjadi medan pertempuran, sementara jalur pipa menjadi instrumen untuk memberikan tekanan.

Menurutnya, upaya berbagai negara untuk melindungi akses mereka terhadap pasokan dan pasar justru dapat mempertajam persaingan ketika akses tersebut terancam.

“Setiap negara tentu berupaya mengamankan akses mereka terhadap bahan baku dan pasar. Ketika akses ini terancam, kita akan melihat ketidakamanan dan persaingan yang semakin sengit. Kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.”

SUMBER:TRT World & Agencies