ASIA
2 menit membaca
Menteri ESDM Bahlil umumkan temuan cadangan gas raksasa di Kalimantan Timur
Total cadangan dari Blok Geliga dan Blok Gula ini diperkirakan mencapai 7 triliun kaki kubik gas dan 375 juta barel kondensat, menjadi tumpuan baru bagi kemandirian energi nasional.
Menteri ESDM Bahlil umumkan temuan cadangan gas raksasa di Kalimantan Timur
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat konferensi pers terkait penemuan cadangan gas raksasa di Jakarta, Senin (20/4/26). Foto: bumntrack

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengumumkan penemuan cadangan gas bumi raksasa di Kalimantan Timur.

Penemuan ini diharapkan menjadi solusi konkret untuk menekan ketergantungan impor dan mewujudkan ambisi swasembada energi yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Cadangan raksasa tersebut berasal dari dua blok migas yang dikelola oleh perusahaan energi asal Italia, Eni, yakni Blok Geliga dan Blok Gula. Berdasarkan rincian teknis, Blok Geliga menyumbang potensi sebesar 5 TCF gas dan 300 juta barel kondensat, sementara Blok Gula menyumbang 2 TCF gas dan 75 juta barel kondensat.

Pemerintah telah menyusun target agresif untuk mengintegrasikan temuan ini ke dalam jaringan energi nasional. Bahlil memproyeksikan lonjakan produksi gas yang signifikan mulai tahun 2028.

"Strateginya adalah bagaimana kita tidak mengimpor gas dari negara mana pun. Kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri,"

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (20/4).

Pemanfaatan gas dari kedua blok ini nantinya akan difokuskan untuk mendukung industri hilirisasi domestik. Selain itu, tambahan produksi kondensat yang ditargetkan mencapai 150 ribu barel pada 2030 diharapkan mampu mengurangi beban impor minyak mentah (crude oil) yang selama ini membebani neraca perdagangan.

Ketahanan energi di tengah krisis Timur Tengah

Pengumuman ini muncul di saat dunia sedang waspada terhadap dinamika di Timur Tengah, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz. Jalur maritim strategis tersebut mengalirkan sekitar 20 hingga 30 persen produksi migas dunia, sehingga gangguan di wilayah tersebut dapat langsung mengguncang stabilitas pasokan energi Indonesia.

Saat ini, konsumsi minyak Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari (bph), sementara angka lifting minyak nasional pada 2025 baru menyentuh 605 ribu bph. Untuk menutup celah yang lebar ini, pemerintah mengejar target ambisius:

  • 2026: Target lifting naik menjadi 610 ribu bph.

  • 2028: Produksi gas dimaksimalkan hingga 2.000 MMSCFD.

  • 2030: Target produksi minyak nasional mencapai 900 ribu hingga 1 juta bph.

Penemuan di Kalimantan Timur ini, ditambah dengan proyek strategis lainnya seperti Blok Masela, menjadi pilar utama bagi Indonesia untuk memperkuat stok nasional. Dengan memanfaatkan cadangan di tanah air sendiri, Indonesia berupaya memagari ekonomi domestik dari lonjakan harga energi global yang dipicu oleh konflik internasional.

TerkaitTRT Indonesia - Perkuat ketahanan energi, Indonesia jajaki pasokan minyak dan LPG dari Rusia
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi