Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Demak, Suprapto, mengatakan dua tanggul jebol berada di Desa Trimulyo dan satu di Desa Sidoharjo, Kecamatan Guntur.
Sebelum tanggul benar-benar jebol, pihak BPBD bersama relawan dan warga sudah berupaya meningkatkan tanggul dengan karung plastik berisi tanah galian, sebagai langkah antisipasi menghadapi debit air yang terus meningkat.
“Hingga akhirnya di Desa Trimulyo terjadi jebol di dua lokasi pukul 10.00 WIB, sementara di Desa Sidoharjo tanggul jebol pada pukul 12.00 WIB,” ujar Suprapto. Warga yang terdampak segera dievakuasi ke balai desa yang aman dari banjir. Empat tim BPBD dikerahkan untuk membantu evakuasi dan memastikan keselamatan warga.
Selain itu, BPBD juga terus memantau kondisi air di sepanjang aliran Sungai Tuntang. Warga sekitar diminta tetap waspada, terutama bagi yang tinggal dekat tanggul.
Koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) juga dilakukan, karena perbaikan tanggul berada di bawah kewenangan lembaga tersebut.
Peristiwa ini bukan pertama kali terjadi di Sungai Tuntang. Pada 16 Februari 2026, tanggul di Desa Kebonagung, Kecamatan Kebonagung, juga jebol. Akibatnya, Jalan Kebonagung–Gubug terputus, mengganggu akses transportasi dari Grobogan menuju Semarang, serta merusak fasilitas infrastruktur desa.
Banjir yang terjadi Jumat ini menambah daftar panjang daerah yang terdampak banjir di Demak akibat tanggul Sungai Tuntang yang rentan jebol saat debit air meningkat.
BPBD Demak mengimbau warga tetap waspada dan mengikuti instruksi evakuasi demi keselamatan.














