BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Kemen ESDM resmikan proyek gasifikasi batubara di Kutai Timur demi tekan impor
Pemerintah memulai pembangunan proyek gasifikasi batubara menjadi metanol di Kutai Timur. Proyek bernilai strategis ini ditargetkan mampu menghemat devisa negara hingga Rp7,1 triliun per tahun.
Kemen ESDM resmikan proyek gasifikasi batubara di Kutai Timur demi tekan impor
Wamen ESDM Resmikan Proyek Gasifikasi Batu Bara untuk Dorong Hilirisasi di Kutai Timur. Foto: Kementerian ESDM

Pemerintah resmi memulai pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Gasifikasi Batubara menjadi Metanol di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Langkah hilirisasi ini diarahkan untuk mengolah batubara berkalori rendah menjadi produk petrokimia bernilai tinggi guna menekan ketergantungan impor nasional.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot meresmikan langsung peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek tersebut pada Senin (31/8).

"Proyek ini merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional," ujar Yuliot dalam siaran pers Kementerian ESDM.

Yuliot menambahkan, percepatan hilirisasi komoditas tambang merupakan amanat prioritas pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto melalui program Asta Cita.

Dorong penghematan devisa dan pasok program biodiesel

Proyek yang dikembangkan oleh PT Bumi Etam Chemical (BEC)—perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC)—akan menempati lahan seluas 93 hektare di kawasan BCIP.

Fasilitas ini dirancang untuk mengolah sekitar 7,70 hingga 7,78 juta ton batubara berkalori rendah (3.400 kcal/kg) per tahun. Dari proses gasifikasi tersebut, pabrik ditargetkan memproduksi sekitar 2 juta ton metanol berstandar internasional (International Methanol Producers and Consumers Association/IMPCA Grade) per tahun.

Produksi metanol domestik ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp7,1 triliun setiap tahunnya. Sebagai perbandingan, pada tahun 2025 Indonesia masih mengimpor 1,3 juta ton metanol dengan nilai setara.

Selain untuk memasok industri petrokimia dan formaldehida, pasokan metanol ini disiapkan guna mendukung pengembangan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) serta percepatan mandatori program B50.

Kesiapan teknologi rendah karbon dan target 2029

Untuk menekan dampak lingkungan, operasional proyek akan dilengkapi fasilitas penangkap dan penyimpan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) serta instalasi pendukung seperti reaktor sintesis, pembangkit listrik mandiri, pengolahan air, dan terminal pelabuhan.

Presiden Direktur BEC Rio Supin menyatakan bahwa proyek ini telah menyelesaikan penyusunan Front-End Engineering Design (FEED) serta kesepakatan kerangka kerja EPCC bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) sejak 29 Juli 2026.

"Proyek Gasifikasi Batubara Pertama di Indonesia siap memasuki implementasi target commissioning tahun 2029 sesuai arahan kementerian," tegas Rio.

TerkaitTRT Indonesia - Danantara bersiap uji coba sistem ekspor batu bara dan sawit mulai September
SUMBER:TRT Indonesia