Jakarta waspadai lonjakan DBD dan Super Flu di tengah musim hujan
Pemerintah Kota Jakarta Barat terus menggencarkan upaya pengendalian DBD, termasuk pemantauan jentik nyamuk secara rutin dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat di lingkungan permukiman.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran demam berdarah dengue (DBD) serta ancaman “super flu” atau influenza A (H3N2) subklade K seiring intensitas musim hujan yang masih tinggi di Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan telah menginstruksikan Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk memberikan perhatian khusus pada dua isu kesehatan tersebut. Arahan itu disampaikan Pramono saat memberikan keterangan pers di kawasan Jakarta Pusat, pada Selasa.
“Saya meminta Dinas Kesehatan fokus memantau dua hal penting, yakni super flu dan demam berdarah,” ujar Pramono.
Menurutnya, hingga kini belum ada laporan kasus super flu di Jakarta. Ia berharap kondisi tersebut dapat terus dipertahankan meskipun curah hujan masih kerap terjadi di berbagai wilayah.
Sementara itu, terkait DBD, Pramono mengakui adanya peningkatan kasus, khususnya di Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Meski demikian, ia optimistis kapasitas layanan kesehatan di Jakarta cukup memadai untuk menangani situasi tersebut.
Data dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat menunjukkan tren kenaikan kasus DBD sejak Oktober hingga Desember 2025. Pada periode 1–15 Januari 2026 saja, tercatat 19 kasus di wilayah tersebut. Rinciannya, tujuh kasus ditemukan di Kebon Jeruk, empat di Kembangan, tiga di Kalideres, dua di Tambora, serta masing-masing satu kasus di Taman Sari, Grogol Petamburan, dan Cengkareng. Adapun Kecamatan Palmerah dilaporkan belum mencatatkan kasus DBD.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna, menjelaskan bahwa kondisi cuaca pada Januari 2026 mendukung berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penularan DBD. Mengacu pada informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tingkat kelembapan udara mencapai sekitar 82 persen, dengan suhu berkisar antara 24 hingga 31 derajat Celsius.
“Kelembapan tersebut berada dalam rentang ideal bagi nyamuk, yakni 71 hingga 83 persen, ditambah suhu yang mendukung perkembangbiakannya,” ujar Sahruna.
Sebagai langkah pencegahan, Pemerintah Kota Jakarta Barat terus menggencarkan upaya pengendalian DBD, termasuk pemantauan jentik nyamuk secara rutin dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat di lingkungan permukiman.