Miliarder Elon Musk, yang memimpin upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengecilkan ukuran pengeluaran pemerintah federal, memberikan pembaruan terkait upaya tersebut dengan mengatakan bahwa mereka sedang bekerja untuk menutup badan bantuan luar negeri Amerika Serikat, USAID.
Musk, yang juga menjabat sebagai CEO Tesla dan SpaceX, membahas Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) dalam sebuah diskusi di media sosial pada hari Senin di platform X, yang juga is miliki. Trump telah menunjuk Musk untuk memimpin panel pengurangan biaya federal tersebut.
Percakapan tersebut, yang juga melibatkan mantan kandidat presiden dari Partai Republik Vivek Ramaswamy dan Senator Partai Republik, Joni Ernst, dimulai dengan pernyataan Musk bahwa mereka sedang berusaha untuk menutup United States Agency for International Development (USAID).
"Badan ini sudah tidak bisa diperbaiki lagi," kata Musk, menambahkan bahwa Presiden Trump setuju bahwa badan tersebut harus ditutup.
Pada hari Minggu, Reuters melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah memecat dua pejabat keamanan tinggi di USAID selama akhir pekan setelah mereka mencoba menghentikan perwakilan dari Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) yang dipimpin oleh Musk untuk mengakses bagian-bagian terbatas dari gedung tersebut, menurut tiga sumber.
USAID adalah donor tunggal terbesar di dunia. Pada tahun fiskal 2023, AS menyalurkan $72 miliar bantuan ke seluruh dunia melalui berbagai program, mulai dari kesehatan perempuan di zona konflik hingga akses ke air bersih, pengobatan HIV/AIDS, keamanan sumber daya energi, dan upaya anti-korupsi. USAID menyumbang 42 persen dari seluruh bantuan kemanusiaan yang dilacak oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2024.
Diskusi online ini muncul di tengah kekhawatiran tentang akses Musk untuk departemen sistem Keuangan Negara, yang pertama kali dilaporkan oleh New York Times, yang mengelola lebih dari $6 triliun per tahun dalam pembayaran atas nama badan-badan federal dan berisi informasi pribadi jutaan warga Amerika yang menerima pembayaran Jaminan Sosial, pengembalian pajak, dan dana lainnya dari pemerintah.
"Penyalahgunaan kekuasaan yang luar biasa"
Peter Welch, Politisi partai demokrat dan anggota Komisi Keuangan di Senat, meminta penjelasan mengapa Musk diberikan akses ke sistem pembayaran tersebut, yang menurut Welch mencakup data sensitif para pembayar pajak.
"Ini adalah penyalahgunaan kekuasaan yang luar biasa oleh seorang birokrat yang tidak dipilih, dan ini menunjukkan bahwa sekarang di era Trump uang dapat membeli kekuasaan di Gedung Putih," kata Welch dalam pernyataan yang dikirim melalui email.
Musk mendapat dukungan penuh dari Trump. Ketika ditanya apakah Musk melakukan pekerjaan dengan baik pada hari Minggu, Trump setuju. "Dia adalah pemotong biaya yang hebat. Memang terkadang kami tidak akan setuju dan tidak akan mengikuti keinginannya. Tapi saya pikir dia melakukan pekerjaan yang luar biasa. Dia orang yang cerdas. Sangat cerdas. Dan dia sangat fokus pada pengurangan anggaran federal kita."
Tim Musk telah diberikan akses atau kendali atas berbagai sistem pemerintah.
Pada hari Jumat, Reuters melaporkan bahwa staf Musk yang bertugas menjalankan badan sumber daya manusia pemerintah AS telah mengunci pegawai negeri karier dari sistem komputer yang berisi data pribadi jutaan pegawai federal, menurut dua pejabat badan tersebut.
Musk bergerak cepat untuk menempatkan sekutunya di badan yang dikenal sebagai Office of Personnel Management. Sebuah tim yang mencakup karyawan saat ini dan mantan karyawan Musk mengambil alih OPM pada 20 Januari, hari ketika Trump menjabat, tambah sumber tersebut.
Sejak menjabat 11 hari yang lalu, Trump telah memulai perombakan besar-besaran pemerintah, memecat dan meminggirkan ratusan pegawai negeri dalam langkah awalnya untuk mengurangi birokrasi dan menempatkan lebih banyak loyalisnya.
SUMBER: REUTERS















