Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan lebat di sejumlah wilayah Jawa Tengah sepanjang 1–10 November 2026. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang akibat cuaca ekstrem.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto mengatakan potensi hujan lebat diperkirakan meluas ke puluhan kabupaten dan kota, meskipun waktu kejadiannya berbeda di setiap wilayah.
Berdasarkan prakiraan cuaca dasarian pertama November, pada 1–3 November hujan lebat berpotensi melanda 29 kabupaten dan empat kota. Wilayah tersebut meliputi Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Magelang, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Semarang, Temanggung, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes.
Potensi serupa juga mencakup Kota Magelang, Surakarta, Salatiga, dan Semarang. Untuk periode 4–6 November, BMKG memperkirakan hujan lebat terjadi di 24 kabupaten dan dua kota.
Sementara itu, pada 7–10 November, potensi hujan lebat diperkirakan terkonsentrasi di 13 kabupaten, yakni Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Grobogan, Blora, Rembang, Sragen, Pati, Kudus, Jepara, dan Demak.

Waspada curah hujan tinggi
Selain peringatan hujan lebat, BMKG juga menetapkan status waspada untuk curah hujan tinggi pada dasarian pertama November. Akumulasi hujan diperkirakan mencapai 150–200 milimeter di sejumlah wilayah.
Goeroeh menjelaskan belum ada wilayah di Jawa Tengah yang masuk kategori siaga dengan perkiraan curah hujan 200–300 milimeter per dasarian maupun kategori awas dengan curah hujan di atas 300 milimeter.
BMKG juga belum mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis di provinsi tersebut. Meski demikian, hasil pemantauan hingga dasarian ketiga Oktober 2026 menunjukkan seluruh 54 zona musim atau 100 persen wilayah zona musim di Jawa Tengah masih mengalami musim kemarau.
Dari sisi iklim regional, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) pada dasarian kedua Oktober tercatat sebesar 0,765, yang menunjukkan fase positif. Kondisi ini diperkirakan berlanjut hingga akhir 2026.
Sementara itu, anomali suhu permukaan laut di kawasan Nino 3.4 tercatat sebesar 3,05. Angka tersebut mengindikasikan fenomena El Nino sangat kuat yang diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat menyiapkan langkah mitigasi untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem, terutama banjir, longsor, serta pohon tumbang.





















