Pengumuman Presiden Donald Trump terkait penarikan 5.000 tentara AS dari Jerman memicu perdebatan sengit mengenai hubungan Washington dan Berlin yang semakin renggang, sekaligus memunculkan berbagai kekhawatiran di Eropa.
Namun, pemerintah Jerman, terutama Menteri Pertahanan Boris Pistorius, merespons keputusan itu dengan cukup tenang.
Saat mengunjungi pasukan di Munster, Pistorius mengatakan keputusan AS tersebut tidak melemahkan kemampuan pencegahan aliansi dan bahwa penarikan sebagian pasukan AS dari Eropa sebenarnya sudah dapat diperkirakan.
Ia juga menempatkan kabar buruk kedua dari Gedung Putih dalam konteks yang lebih luas, yakni keputusan AS mencabut komitmen era Presiden Joe Biden untuk menempatkan rudal jelajah Tomahawk di Jerman.
Sebagai gantinya, Pistorius menyoroti pengembangan bersama rudal jelajah dengan Inggris serta proyek kendaraan luncur hipersonik yang tengah dikerjakan kementeriannya.
Apa yang terlihat seperti “bisnis seperti biasa” sebenarnya memiliki dimensi politik yang jelas.
Pertukaran pernyataan terbaru antara Kanselir Friedrich Merz dan Trump mendapat perhatian luas media internasional.
Trump merespons dengan marah kritik Merz yang menuduh AS tidak memiliki strategi militer yang jelas terkait Iran. Dalam konteks itu, Berlin tampaknya ingin menghindari eskalasi lebih lanjut.
Kebijakan pasukan sebagai alat tekanan
Trump dikenal dengan retorika tajamnya, meski tidak semua ancamannya selalu berujung buruk.
Namun, gaya politiknya kerap diikuti tindakan nyata. Penarikan pasukan menjadi salah satu alat favorit Trump, seperti terlihat dalam komentarnya terkait peran Italia dan Spanyol dalam konflik Iran.
Saat ini, sekitar 85 ribu tentara AS ditempatkan di Eropa.
Pada Desember lalu, Kongres melarang Trump mengurangi jumlah itu menjadi di bawah 76 ribu tanpa memberikan alasan keamanan nasional yang komprehensif terlebih dahulu.
Penarikan 5.000 tentara diperkirakan dapat dilakukan dalam waktu satu tahun dan secara efektif setara dengan menarik satu brigade dari Jerman, tempat sekitar 40 ribu tentara AS saat ini ditempatkan.
Menurut sumber AS, langkah itu akan menurunkan jumlah pasukan ke level tahun 2022. Jika terjadi, kekuatan militer AS di Eropa akan kembali mendekati tingkat sebelum invasi Rusia ke Ukraina.
Pergeseran strategi
Penggunaan penempatan pasukan sebagai alat politik sebenarnya bukan hal baru. Pada era Perang Dingin, strategi serupa juga digunakan untuk mendorong Jerman meningkatkan kontribusi pertahanannya.
Namun, akan terlalu sederhana jika pengumuman Trump hanya dilihat dalam konteks itu. Langkah tersebut juga mencerminkan penataan ulang strategi AS yang lebih mendalam.
Pada intinya, kebijakan ini menunjukkan adanya pertanyaan mendasar terhadap fondasi NATO.
Pergeseran fokus AS ke kawasan Asia-Pasifik yang dimulai sejak era Barack Obama kini semakin dipercepat oleh Trump dan disertai kebijakan yang dinilai tidak menentu sehingga membebani hubungan aliansi.
Sumber resmi AS awalnya tidak memberikan rincian spesifik mengenai penarikan pasukan, yang memunculkan dugaan bahwa pengumuman itu juga dimaksudkan sebagai bentuk tekanan politik.
Pentagon kemudian mengonfirmasi langkah tersebut kepada Fox News. Washington menegaskan pengurangan pasukan merupakan bagian dari evaluasi menyeluruh atas kehadiran militer AS di Eropa.
Dalam konteks itu, kunjungan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jerman Carsten Breuer ke Washington pekan lalu, di mana ia mendapat penjelasan mengenai rencana tersebut, juga menjadi penting. Hal itu bisa menjelaskan mengapa pemerintah Jerman tampak cukup siap menghadapi keputusan AS.
Trump sendiri beberapa kali menyinggung kemungkinan penarikan pasukan, meski awalnya secara samar. Karena itu, 5.000 tentara yang disebut saat ini kemungkinan hanya langkah awal.
Makna politik dari penarikan tersebut dinilai tidak boleh diremehkan. Dalam logika strategi pertahanan AS saat ini dan perhitungan kebijakan luar negeri Washington, langkah itu dianggap bagian dari proses menjauhnya hubungan AS dan Eropa secara perlahan.
Perkembangan ini berpotensi melemahkan kohesi dan kemampuan operasional NATO.
Kondisi tersebut menghadirkan tantangan ganda bagi Eropa: menahan diri agar tidak memicu konfrontasi dengan Trump, sekaligus meningkatkan kontribusi mereka sendiri dalam menjaga keamanan aliansi transatlantik.

















