Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa rangkaian kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto ke Rusia dan Prancis, yang berlangsung bersamaan dengan kunjungan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ke Amerika Serikat, menegaskan implementasi nyata politik luar negeri bebas-aktif.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, mengatakan pendekatan ini menunjukkan kemampuan Indonesia menjaga komunikasi dengan berbagai mitra strategis secara bersamaan di tengah dinamika geopolitik global.
Dalam kunjungannya pada Senin (13/4), Prabowo menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kedua negara sepakat memperluas kerja sama di berbagai sektor, termasuk ekonomi, energi, antariksa, pertanian, industri, dan farmasi.
Kerja sama bilateral
Tindak lanjut dari pertemuan tersebut terlihat melalui pembicaraan antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev, yang membahas potensi pembelian minyak mentah dan LPG dari Rusia.
Sementara itu, di Washington, Sjafrie bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Pentagon. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk meningkatkan hubungan pertahanan menuju kerangka Major Defense Cooperation Partnership (MDCP).
Kerja sama tersebut difokuskan pada penguatan stabilitas dan keamanan di kawasan Indo-Pasifik, yang dinilai strategis bagi kepentingan global.
Kementerian Luar Negeri menekankan bahwa kebijakan bebas-aktif memungkinkan Indonesia menjalin hubungan dengan berbagai negara tanpa terikat pada blok tertentu, sekaligus mendorong kerja sama yang saling menguntungkan di berbagai sektor.
Pendekatan ini, menurut pemerintah, menjadi landasan utama diplomasi Indonesia dalam menghadapi lanskap geopolitik yang terus berubah, sekaligus menegaskan kemandirian Jakarta dalam menentukan arah kebijakan luar negerinya.












