Pasar saham di kawasan Asia berkembang mencatat penguatan signifikan pada akhir pekan, didorong sentimen positif dari kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, pelaku pasar tetap waspada terhadap ketidakpastian keberlanjutan kesepakatan tersebut.
Menurut laporan Reuters, indeks MSCI Emerging Markets Asia naik sekitar 1,1 persen pada Jumat dan berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 8 persen yang menjadi performa terbaik sejak Desember 2011. Sementara itu, indeks saham negara berkembang global juga mencatat kenaikan sekitar 7 persen dalam sepekan, tertinggi sejak Juni 2020.
Reli pasar terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyepakati gencatan senjata dua pekan dengan Iran. Meski demikian, kekhawatiran tetap muncul karena lalu lintas di Selat Hormuz sebagai jalur vital bagi perdagangan minyak global masih terbatas.
Meski pasar menguat, sejumlah analis menilai dampak konflik masih akan membebani kawasan. Dalam catatan yang dikutip Reuters, analis Barclays memperingatkan bahwa tekanan terhadap Asia berkembang berpotensi lebih luas dibanding wilayah lain.
“Mereka menilai kawasan ini kemungkinan tidak akan sepenuhnya terhindar dari dampak ekonomi jangka panjang akibat gangguan pasokan yang terus berlangsung,” tulis laporan tersebut.
Barclays juga menyoroti kerusakan fasilitas energi dan pelabuhan di Iran serta negara Teluk lainnya sebagai faktor yang berpotensi mempertahankan tekanan terhadap rantai pasok di Asia.

Prospek ekonomi kawasan
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan sekitar 2,2 persen pada Jumat, dipicu lonjakan saham produsen petrokimia Chandra Asri yang naik hingga 17,8 persen. Secara mingguan, IHSG telah menguat lebih dari 6 persen dan menuju kenaikan pertama dalam tujuh pekan.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah justru melemah dan menyentuh level terendah sepanjang masa di kisaran 17.120 per dolar AS, dengan potensi penurunan mingguan sekitar 0,7 persen.
Di kawasan lain, indeks KOSPI Korea Selatan naik sekitar 1,4 persen, sementara won melemah setelah bank sentral mempertahankan suku bunga acuannya. Bursa di Kuala Lumpur dan Manila mencatat kenaikan tipis, sementara pasar Singapura relatif stagnan.
Saham Thailand melanjutkan tren positif untuk hari keempat berturut-turut dengan kenaikan sekitar 1,1 persen, mendekati level tertinggi dalam enam pekan.
Di pasar mata uang, ringgit Malaysia menguat sekitar 0,4 persen dan menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan tahun ini, dengan kenaikan sekitar 2,3 persen.
Secara keseluruhan, meskipun reli pasar mencerminkan optimisme jangka pendek, ketidakpastian geopolitik dan gangguan pasokan energi global masih menjadi faktor utama yang membayangi prospek ekonomi kawasan.















