Bayi Palestina meninggal akibat kedinginan saat Israel terus blokir bantuan ke Gaza

Seorang bayi Palestina berusia tujuh bulan meninggal dunia akibat suhu dingin ekstrem di Gaza, menyoroti krisis kemanusiaan yang kian memburuk bagi keluarga pengungsi yang tinggal di tenda dan tempat penampungan padat.

By
Kematian bayi akibat cuaca dingin meningkat di kalangan keluarga pengungsi di Gaza. / Reuters

Seorang bayi Palestina meninggal dunia akibat paparan suhu dingin ekstrem di Jalur Gaza, menambah jumlah anak yang tewas akibat cuaca dingin musim dingin ini menjadi sembilan orang, menurut sumber medis yang dikutip Anadolu.

Bayi perempuan berusia tujuh bulan bernama Shatha Abu Jarad, warga kawasan al-Daraj di Kota Gaza, meninggal dunia pada Selasa setelah jantungnya berhenti akibat suhu dingin yang parah, ujar sumber tersebut.

Kematian Shatha terjadi di tengah kondisi kemanusiaan yang semakin memprihatinkan bagi warga Gaza yang terusir dari rumah mereka.

Ratusan ribu keluarga terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat atau tempat penampungan yang penuh sesak, tanpa perlindungan memadai dari cuaca musim dingin. Mereka kekurangan selimut, pakaian hangat, dan alat pemanas setelah lebih dari dua tahun perang genosida yang dilancarkan Israel.

Meski gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, Israel dilaporkan masih terus melancarkan serangan ke Gaza serta memblokir masuknya bahan-bahan tempat tinggal ke wilayah tersebut, termasuk tenda dan rumah portabel, menurut para pejabat bantuan kemanusiaan.

‘Dampak kemanusiaan yang katastrofik’

Pekan lalu, kantor media pemerintah Gaza melaporkan bahwa total kematian akibat cuaca dingin mendekati 30 orang, seluruhnya merupakan warga Palestina yang mengungsi dan tinggal di kamp-kamp darurat.

Kantor tersebut juga menyebut sekitar 7.000 tenda hancur akibat badai yang melanda Gaza baru-baru ini, seraya memperingatkan adanya “dampak kemanusiaan yang bersifat katastrofik” seiring kembalinya suhu beku.

Israel telah memaksa lebih dari 1,5 juta warga Palestina mengungsi ke kamp-kamp penampungan setelah kehancuran masif rumah dan infrastruktur di Gaza.

Sejak Oktober 2023, hampir 70.700 orang—sebagian besar perempuan dan anak-anak—tewas di Gaza, sementara lebih dari 171.000 lainnya mengalami luka-luka, berdasarkan data otoritas kesehatan Palestina.