Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu fenomena iklim El Nino terus melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan, memicu kabut asap tebal yang mengancam kesehatan jutaan warga serta melumpuhkan aktivitas publik.
Kementerian Kesehatan menyatakan setidaknya 3,4 juta penduduk di tujuh provinsi kini berisiko tinggi terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Dampak paparan polusi udara akibat kebakaran lahan ini telah memicu ribuan orang berobat ke fasilitas kesehatan.
Di Pekanbaru, Riau, kualitas udara yang kian memburuk memaksa pemerintah daerah meliburkan puluhan sekolah dan mengimbau warga membatasi aktivitas di luar ruangan.
"Kabut asap terasa semakin tebal saat malam, membuat Pekanbaru hampir seperti kota mati. Banyak orang tidak berani keluar, dan jika harus keluar, mereka memakai masker," ungkap Abdullah (38), salah satu warga Pekanbaru, kepada kantor berita AFP.
"Mata terasa sangat perih. Kalau keluar rumah, rasanya persis seperti menghirup asap pembakaran sampah," imbuhnya.
Kondisi serupa terjadi di Jambi. Pemerintah setempat telah mengalihkan proses belajar-mengajar bagi siswa jenjang TK dan SD ke pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga akhir pekan demi melindungi anak-anak dari paparan partikel berbahaya.
Merespons krisis kesehatan ini, Kemenkes telah mendistribusikan lebih dari 260.000 masker medis ke berbagai titik terdampak paling parah.
Operasi Pemadaman Lintas Instansi
Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah telah mengerahkan ribuan personel gabungan didukung puluhan helikopter water bombing, pesawat patroli, dan pompa air untuk menjinakkan kobaran api.
"Sekarang saya kira sudah mulai terkendali, termitigasi. Di beberapa tempat, saya percaya dan berharap dalam satu hingga dua pekan ke depan semuanya bisa diselesaikan," ujar Prabowo.
Selain pemadaman di darat dan udara, penegakan hukum terhadap praktik tebas-bakar (slash-and-burn) untuk pembukaan lahan perkebunan terus berjalan. Pihak kepolisian telah menangkap 72 orang yang diduga menjadi dalang pemicu titik api.
Data pemerintah mencatat, sepanjang Januari hingga Juli, karhutla telah menghanguskan lebih dari 200.000 hektare lahan—luasan yang setara dengan tiga kali luas Jakarta dan melampaui skala karhutla pada siklus El Nino 2019 maupun 2023.
Kabut asap lintas batas (transboundary haze) ini juga mulai berdampak pada negara tetangga. Otoritas Sarawak, Malaysia, sempat menutup hampir 600 sekolah pekan lalu akibat pekatnya asap, sementara pemantau kualitas udara IQAir menempatkan Kuala Lumpur di peringkat kedua kota paling berpolusi di dunia. Pemerintah Malaysia menyatakan kesiapannya untuk membantu pemadaman karhutla jika dibutuhkan.















