Palang Merah: Laboratorium yang menyimpan sampel Ebola di Goma, DRC, dalam resiko di tengah konflik
Palang Merah Internasional (ICRC) memperingatkan tentang "konsekuensi yang tak terbayangkan jika sampel, termasuk virus Ebola, dan patogen yang terkandung di dalamnya menyebar" selama bentrokan bersenjata di Goma, DRC.
Palang Merah menyatakan kekhawatiran mereka pada hari Selasa terkait risiko bahwa pertempuran di kota Goma, Republik Demokratik Kongo, yang sekarang berada dibawah kepungan, dapat menyebabkan sampel wabah virus Ebola dan patogen lainnya yang disimpan di laboratorium bocor.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) sangat prihatin dengan situasi di laboratorium institut penelitian biomedis nasional, yang menghadapi risiko pemadaman listrik, kata Direktur Regional ICRC untuk Afrika, Patrick Youssef.
Berbicara kepada wartawan di Jenewa, Youssef menekankan pentingnya menjaga sampel yang mungkin terpengaruh oleh konflik bentrokan, memperingatkan konsekuensi yang tak terbayangkan jika sampel, termasuk virus Ebola, yang ada di dalamnya menyebar.
Youssef menyoroti bahwa laboratorium tersebut sangat dekat dengan delegasi ICRC di Goma, tetapi dia tidak memiliki informasi lebih detail tentang keamanan laboratorium lain di kota itu.
Kota penting di bagian timur Republik Demokratik Kongo ini telah menjadi medan pertempuran sejak pasukan dari kelompok bersenjata M23 yang dipimpin oleh Tutsi dan pasukan tentara Rwanda memasuki pusat Goma pada hari Minggu setelah mengalami kemajuan selama berminggu-minggu.
Wilayah timur yang kaya mineral di negara besar Afrika Tengah ini telah dilanda pertempuran antara kelompok bersenjata yang didukung oleh saingan regional sejak genosida terhadap Tutsi pada tahun 1994.
Pengungsian Internal
Setengah juta orang di wilayah tersebut dipaksa meninggalkan rumah mereka sejak awal tahun, kata badan pengungsi PBB pada hari Senin.
Goma, sebuah kota dengan populasi satu juta di perbatasan DRC-Rwanda, sudah menjadi tempat tinggal bagi sekitar 700.000 orang yang mengungsi secara internal.
ICRC menyuarakan kekhawatiran atas dampak peningkatan bentrok pertempuran terhadap warga sipil, mereka memperingatkan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah melihat lonjakan besar orang yang terluka akibat tembakan dan bahan peledak di fasilitas yang didukung ICRC, termasuk rumah sakit CBCA Ndosho di Goma.
Organisasi tersebut mengatakan bahwa sejak awal bulan, stafnya telah merawat lebih dari 600 orang yang terluka — hampir setengahnya adalah warga sipil dan banyak di antaranya perempuan dan anak-anak.
"Warga siğil yang terluka diangkut dengan sepeda motor, sedangkan lainnya dengan bus, atau dengan bantuan sukarelawan Palang Merah Kongo," kata Myriam Favier, kepala sub-delegasi ICRC di Goma, dalam pernyataan tersebut.
"Warga sipil datang dengan luka serius akibat peluru atau pecahan peluru," katanya, menggambarkan bagaimana beberapa pasien "berbaring di lantai karena (RS tersebut) kekurangan kamar ruangan."
Francois Moreillon, kepala delegasi ICRC di Republik Demokratik Kongo, mengatakan bahwa organisasi tersebut "menerima banyak panggilan dari orang-orang yang terluka, tak berdaya, dan dibiarkan berjuang sendiri."
SUMBER: AFP