Cuaca dingin dikaitkan dengan 2.544 kematian di Inggris

Aktivis memperingatkan kemiskinan energi dan kualitas hunian yang buruk membuat kelompok rentan semakin berisiko saat musim dingin.

By
(FOTO ARSIP) Seorang pejalan kaki melintasi Clapham Common yang tertutup salju di London, Inggris. / Reuters

Cuaca dingin selama musim dingin 2024–2025 dikaitkan dengan sekitar 2.544 kematian di Inggris. Data tersebut terungkap dalam laporan perdana Cold Mortality Monitoring Report yang dirilis UK Health Security Agency (UKHSA) pada Rabu.

Gelombang dingin terpanjang selama enam hari pada awal Januari tercatat menyumbang sekitar 1.630 kematian. Sebagian besar korban berusia 85 tahun ke atas.

Laporan tersebut menganalisis angka kematian di rumah sakit, rumah tinggal, panti jompo, hingga hospice. Penyakit pada sistem sirkulasi tercatat sebagai penyebab kematian terkait cuaca dingin yang paling umum.

Pejabat UKHSA menekankan bahwa bahkan periode dingin yang singkat dapat berdampak serius, terutama bagi lansia dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan bawaan.

Kepala Extreme Events and Health Protection UKHSA, Dr Agostinho Sousa, mengatakan cuaca dingin masih menjadi risiko serius bagi kesehatan publik yang sebenarnya bisa dicegah.

Menurutnya, laporan ini memberikan bukti baru mengenai dampak suhu dingin terhadap angka kematian, sehingga sistem peringatan dan langkah kesiapsiagaan dapat disusun berdasarkan bukti dampak kesehatan.

Sousa menjelaskan, periode dingin singkat pun dapat memicu lonjakan kematian beberapa hari hingga beberapa pekan setelah suhu turun. Ia menambahkan, pemahaman mengenai kelompok paling terdampak membantu otoritas menyalurkan dukungan musim dingin secara lebih tepat sasaran.

Aktivis soroti kemiskinan energi dan kualitas perumahan

Para pegiat kesehatan publik menyebut angka tersebut menunjukkan dampak mematikan dari kemiskinan energi dan kondisi hunian yang tidak memadai.

“Lebih dari 2.500 orang meninggal terkait cuaca dingin, dan sebagian besar adalah lansia. Ini benar-benar mengejutkan,” kata juru bicara End Fuel Poverty Coalition.

Mereka menilai harga gas yang bergejolak, kualitas rumah yang buruk, serta berkurangnya dukungan bagi rumah tangga lansia turut memperparah krisis.

Jonathan Blades dari Asthma and Lung UK memperingatkan risiko bagi penderita gangguan paru.

Menurutnya, suhu beku sangat berbahaya bagi penderita asma maupun penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) karena udara dingin dapat mempersempit saluran napas dan membuat pernapasan lebih sulit.

Blades menambahkan, cuaca dingin juga melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi, sehingga memperbesar risiko penyakit pernapasan seperti pilek dan flu yang masih beredar.

Sejumlah advokat mendesak pemerintah meningkatkan dukungan pada musim dingin. Mereka menilai bantuan terkait cuaca dingin kerap terlambat, serta meminta bantuan finansial yang lebih terarah bagi rumah tangga berisiko dan investasi jangka panjang dalam insulasi rumah serta efisiensi energi guna menekan kematian yang sebenarnya dapat dicegah.