Basarnas hentikan operasi pencarian korban banjir di Aceh setelah sebulan
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana hingga hari Jumat, jumlah korban meninggal akibat rangkaian bencana di tiga provinsi tersebut mencapai 1.135 orang, dengan 503 korban jiwa tercatat di Aceh.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) secara resmi mengakhiri operasi pencarian korban banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh setelah upaya evakuasi berlangsung selama satu bulan tanpa temuan baru.
Kepala Basarnas Banda Aceh, Ibnu Harris Al Hussain, mengatakan fase pencarian aktif telah dihentikan dan kini beralih ke tahap pemantauan. Keputusan tersebut diambil karena dalam beberapa hari terakhir tidak ditemukan korban tambahan.
“Operasi pencarian yang kami lakukan selama satu bulan telah kami akhiri dan dialihkan ke fase monitoring. Dalam beberapa hari terakhir, pencarian tidak membuahkan hasil,” ujar Ibnu Harris di Banda Aceh, pada Kamis, dikutip oleh kantor berita Antara.
Ia menjelaskan, operasi SAR telah berjalan selama 31 hari, dengan Kamis menjadi hari terakhir pelaksanaan pencarian secara intensif. Hingga kini, tercatat 31 warga Aceh masih dinyatakan hilang.
Menurut Ibnu Harris, setelah satu bulan berlalu sejak bencana terjadi, peluang korban untuk ditemukan dalam kondisi selamat dinilai sangat kecil. Meski demikian, Basarnas memastikan kesiapsiagaan tetap dijaga.
“Walaupun operasi pencarian dihentikan, kami tetap melakukan pemantauan. Jika ada laporan atau temuan korban, tim SAR akan segera diterjunkan,” katanya.
Pemulihan fasilitas publik
Basarnas juga mengimbau masyarakat untuk segera melapor apabila menemukan tanda-tanda keberadaan korban agar proses evakuasi dapat dilakukan secepat mungkin. Tim SAR disebut masih bersiaga di wilayah terdampak bencana.
Banjir besar dan longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 akibat hujan dengan intensitas tinggi. Bencana tersebut menjadi salah satu yang paling mematikan di Sumatra dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga hari Jumat, jumlah korban meninggal akibat rangkaian bencana di tiga provinsi tersebut mencapai 1.135 orang, dengan 503 korban jiwa tercatat di Aceh.
BNPB juga melaporkan kerusakan besar pada sektor permukiman. Sekitar 157.800 rumah mengalami kerusakan, dengan Aceh menjadi wilayah terdampak terparah, mencakup sekitar 115.600 unit rumah.
Selain korban jiwa, hampir setengah juta warga masih mengungsi. BNPB mencatat sekitar 489.600 orang belum dapat kembali ke rumah mereka, sementara proses pendataan korban tewas, hilang, dan pengungsi masih terus diperbarui.
Pemerintah pusat dan daerah saat ini memfokuskan langkah lanjutan pada pemulihan fasilitas publik, pembangunan hunian sementara, serta penyediaan hunian tetap bagi masyarakat yang terdampak bencana.