Hujan ekstrem mematikan rendam Tunisia, lumpuhkan sejumlah kota

Sedikitnya tiga orang dilaporkan tewas di wilayah pesisir Monastir akibat banjir besar, menurut otoritas setempat.

By
Foto ini menunjukkan jalan yang tergenang banjir setelah hujan deras melanda Tunis, Tunisia pada 18 Oktober 2018. / AA

Banjir besar yang melanda Tunisia menewaskan sedikitnya tiga orang, kata pihak berwenang pada Selasa, dengan seorang pejabat menyebut situasi berada pada level “kritis” seiring sejumlah wilayah di negara Afrika Utara itu mengalami curah hujan terlebat dalam lebih dari 70 tahun terakhir.

Juru bicara pertahanan sipil, Khalil Mechri, mengatakan dua orang terseret arus banjir, sementara seorang perempuan lanjut usia ditemukan tewas tenggelam di dalam rumahnya. Insiden tersebut terjadi pada malam hari dari Senin hingga Selasa di wilayah pesisir Monastir, menurut kepala pertahanan sipil setempat.

Peringatan cuaca ekstrem masih terus dikeluarkan. Kepala divisi prakiraan di Institut Meteorologi Nasional (INM), Abderazak Rahal, menyebut sejumlah wilayah belum pernah mengalami hujan seintens ini sejak 1950. “Kami mencatat curah hujan yang sangat luar biasa untuk bulan Januari,” ujarnya, seraya menyebut Monastir, Nabeul, dan kawasan Tunis Raya sebagai daerah yang paling terdampak.

Di desa wisata Sidi Bou Said yang berada di pinggiran ibu kota, curah hujan mencapai 206 milimeter sejak Senin malam, menurut laporan INM. Pejabat meteorologi lainnya, Mahrez Ghannouchi, menggambarkan kondisi di beberapa wilayah sebagai “kritis”.

Gambar-gambar yang beredar di media sosial menunjukkan mobil-mobil terjebak di arus deras, sementara jalanan berubah menjadi sungai. Otoritas setempat menangguhkan kegiatan belajar mengajar di sejumlah daerah, dan layanan transportasi terganggu akibat terputusnya akses jalan serta jalur kereta.

Banjir besar ini terjadi di tengah kontras iklim yang tajam di Tunisia. Setelah mengalami kekeringan selama tujuh tahun yang menguras cadangan bendungan dan memaksa pembatasan air, negara tersebut kini harus menghadapi curah hujan ekstrem yang sulit ditampung oleh infrastruktur yang ada.

Para ahli menilai krisis iklim memperparah siklus kekeringan dan banjir ini, sekaligus meningkatkan risiko terhadap sektor pertanian, pasokan air bersih, dan keselamatan publik.