Bagaimana AS dan Israel melibatkan Tuhan dalam perang melawan Iran

Netanyahu mengutip Kitab Taurat untuk membenarkan serangan, komandan militer AS menyebut Trump “diurapi Yesus,” sementara fanatisme agama justru diarahkan ke Iran.

By Ilgar Ismailly
Bagaimana AS dan Israel membawa-bawa Tuhan dalam perang melawan Iran. / TRT Russian

“Pergilah dan hancurkan orang Amalek dan semua milik mereka. Jangan biarkan satu pun hidup—laki-laki, perempuan, anak-anak, bayi yang menyusu, lembu, domba, unta, atau keledai.”

1 Samuel 15:2-3

Saat Presiden George W. Bush menyebut kata “perang salib” pada September 2001, White House langsung menarik pernyataan itu karena dianggap kurang tepat. Kata itu diganti dengan istilah “aliansi anti-terorisme” dan cepat dilupakan. Kini, 25 tahun kemudian, retorika alkitabiah terkait perang dengan Iran bukan salah ucap atau metafora—melainkan bagian dari kerangka pemikiran yang mendukung tindakan militer.

Purim dijadikan acuan operasi

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memulai operasi militer dengan khotbah, bukan perintah. Dua hari sebelum Purim—hari raya yang memperingati keselamatan orang Yahudi dari pemusnahan di Persia kuno—Netanyahu mengutip Taurat: “Ingat apa yang dilakukan Amalek kepada kalian. Kami ingat—dan kami bertindak.” Serangan terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, Sabat, dengan operasi bernama Am ke-Lavi atau “Bangsa Seperti Singa,” diambil dari Kitab Bilangan. Netanyahu bahkan menulis frasa yang sama di Tembok Barat sehari sebelumnya.

Ini bukan kebetulan. Dalam tradisi Yahudi, Amalek dianggap simbol kejahatan mutlak yang tidak boleh diberi belas kasihan. Samuel memerintahkan “bunuh laki-laki, perempuan, anak-anak, dan bayi yang menyusu.” Netanyahu sempat menggunakan referensi ini pada Oktober 2023 untuk memberkati tentara sebelum operasi darat di Gaza. Kata-kata ini sebelumnya bahkan digunakan Afrika Selatan dalam gugatan genosida di Mahkamah Internasional.

Anggota Kongres AS Randy Fine membawa logika ini ke ekstrem. Ia menyamakan Khamenei dengan Haman alkitabiah—penjahat cerita Purim—dan menulis di Facebook: “2.400 tahun lalu, kami menghancurkan penguasa Persia yang ingin membunuh kami semua. Tahun ini, kami melakukannya lagi. Selamat Purim. Tahun ini, bahkan bukan Yahudi pun bisa merayakan!” Ini bukan candaan internet; seorang anggota Kongres menyatakan perang modern sebagai kelanjutan literal cerita alkitabiah dari ribuan tahun lalu.

Banyak rabi Israel menolak interpretasi militan terhadap “Amalek,” menegaskan itu soal pemurnian batin dan perjuangan melawan kejahatan, bukan pemusnahan fisik bangsa.

Trump diurapi Yesus

Jika pihak Israel mendapat inspirasi dari Taurat, pihak AS mendapat inspirasi dari Wahyu Yohanes.

Military Religious Freedom Foundation (MRFF) menerima lebih dari 200 pengaduan dari personel militer di seluruh cabang: Angkatan Darat, Laut, Udara, Marinir, dan Space Force. Pengaduan datang dari lebih 50 unit di lebih dari 30 pangkalan.

Komandan unit kerap menyampaikan bahwa perang dengan Iran bagian dari rencana ilahi. Salah satu komandan mengatakan pada bawahannya: “Trump diurapi Yesus untuk menyalakan api sinyal di Iran, memicu Armageddon, dan menandai kembalinya-Nya ke Bumi.” Enam belas orang mengadukan hal ini—11 Kristen, satu Muslim, dan satu Yahudi.

Mikey Weinstein, pendiri MRFF, veteran Angkatan Udara dan mantan penasihat hukum White House, memperingatkan ini bukan fenomena satu-dua perwira gila, tapi sistemik. “Ketika nasionalisme Kristen masuk ke tempat penyimpanan senjata nuklir, drone, dan amunisi laser, ini ancaman langsung bagi keamanan nasional dan dunia,” ujarnya.

Kondisi ini diperkuat dari atas. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, seorang Zionis Kristen garis keras, mengadakan studi Alkitab bulanan di Pentagon dan mengundang pengkhotbah sayap kanan yang kontroversial. Hegseth sendiri pernah menyebut rezim Iran terobsesi dengan “delirium kenabian Islam”—yang dikecam sebagai pernyataan anti-Muslim dan berbahaya.

Pentagon belum menanggapi permintaan wawancara terkait pengaduan ini.

Fanatisme agama

Ironisnya, AS menuduh Iran fanatik agama. Menteri Luar Negeri Rubio menyebut pemimpin Iran “fanatik religius gila.” Hegseth mengecam “delirium kenabian Islam.” Tapi di sisi lain, komandan AS memberi tahu tentara bahwa perang di Iran adalah Armageddon alkitabiah, dan Trump adalah yang diurapi Kristus.

Netanyahu mengutip perintah untuk memusnahkan Amalek, sementara Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyatakan Israel berhak atas “hampir seluruh Timur Tengah” karena dijanjikan Tuhan. Pengkhotbah televisi John Hagee, dalam khotbah yang viral di media sosial, menyebut serangan ke Iran sebagai pemenuhan nubuat alkitabiah dan meramalkan Rusia, Türkiye, dan “sisa Iran” akan menyerbu Israel, yang akan “dihancurkan” oleh Tuhan. Konflik resmi yang ditujukan untuk mengatasi ancaman rudal kini dibalut mitologi apokaliptik.

Retorika agama ini punya beberapa fungsi. Ia memobilisasi audiens domestik: evangelis dan Zionis Kristen melihat Timur Tengah lewat lensa “kiamat,” dan referensi alkitabiah mengaktifkan kode budaya yang sudah ada. Ia juga membingkai konflik sebagai drama moral “baik versus jahat” dan “peradaban versus fanatisme.”

Namun harga retorika ini tinggi: kompromi politik sulit, ekspektasi meningkat, dan persepsi global terhadap perang berubah, menyulitkan diplomasi.

Pada 28 Februari, pesawat Israel menyerang sekolah Shajare Tayyebeh di Minab, Iran, menewaskan 175 anak. Serangan terjadi saat jam sekolah, di Sabat, menjelang Purim—setelah Netanyahu mengutip perintah memusnahkan Amalek, termasuk bayi yang menyusu. Hubungan antara retorika dan kenyataan menjadi nyata.

Mengapa fanatisme lebih berbahaya daripada rudal

Perang biasanya soal wilayah, sumber daya, dan pengaruh, bisa diselesaikan dengan negosiasi. Tapi perang sektarian tidak bisa: ketika lawan dianggap perwujudan kejahatan alkitabiah, kompromi mustahil. Gencatan senjata tidak mungkin dengan Amalek, tidak mungkin bernegosiasi dengan Armageddon.

Inilah sebabnya retorika agama di kampanye Iran bukan sekadar hiasan, tapi ancaman struktural. Ia menutup jalur diplomasi, menetapkan satu-satunya hasil yang diterima—yaitu kehancuran total musuh. Konflik politik yang bisa diselesaikan pun berubah menjadi benturan metafisik yang tak punya solusi.

Dua puluh lima tahun lalu, kata “perang salib” hanyalah salah ucap. Kini, Armageddon bukan salah ucap, tapi narasi operasional—dan ini adalah hal paling mengkhawatirkan di minggu pertama perang.