DUNIA
2 menit membaca
Pemimpin Eropa kecam tewasnya pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon
Beberapa pemimpin Eropa mengecam keras tewasnya pasukan perdamaian Indonesia dalam ledakan di Lebanon, menyoroti perlunya perlindungan bagi misi PBB di wilayah konflik.
Pemimpin Eropa kecam tewasnya pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon
Tentara Israel mengambil posisi di dekat perbatasan Israel-Lebanon di Israel utara. / Reuters
14 jam yang lalu

Beberapa pemimpin Eropa mengecam keras kematian seorang pasukan perdamaian Indonesia yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) akibat ledakan pada Minggu malam di dekat desa Adchit al-Qusayr, Lebanon selatan.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menyebut insiden itu sebagai “garis merah baru” yang dilintasi di Lebanon. “Spanyol mengecam keras peristiwa ini. Sumber proyektil harus segera diungkap, dan kami meminta pemerintah Israel menghentikan permusuhan,” tulis Sanchez di platform X. Ia menambahkan, serangan terhadap misi PBB merupakan “agresi yang tidak dapat dibenarkan terhadap komunitas internasional.”

Sementara itu, Perdana Menteri Irlandia, Micheal Martin, juga menyatakan kecaman keras terhadap pembunuhan pasukan perdamaian dan “eskalasi kekerasan yang mengejutkan, yang telah melukai sejumlah pasukan perdamaian dalam beberapa hari terakhir.” Ia menegaskan peran pasukan perdamaian harus selalu dihormati dan meminta Israel serta Hezbollah “melakukan segala upaya” untuk melindungi keselamatan mereka.

Menteri Luar Negeri Irlandia, Helen McEntee, menambahkan: “Saya sangat mengecam serangan ini. Terlalu banyak nyawa yang hilang dalam menjalankan misi perdamaian. Eskalasi kekerasan harus dihentikan.”

Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot, menyatakan kecaman tegas negaranya sekaligus menyampaikan solidaritas penuh kepada Indonesia. “Serangan terhadap pasukan perdamaian adalah pelanggaran serius hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Harus ada akuntabilitas, dan Lebanon membutuhkan de-eskalasi,” ujar Prevot di X.

Latar belakang konflik

Menurut UNIFIL, satu pasukan perdamaian tewas akibat ledakan proyektil di pos mereka, sementara satu lainnya mengalami luka kritis. Insiden ini terjadi di tengah serangkaian serangan udara Israel di Lebanon selatan, menyusul serangan lintas perbatasan oleh Hezbollah pada 2 Maret lalu.

Wilayah tersebut juga berada dalam kondisi siaga sejak serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menarget Israel, Yordania, Irak, dan negara Teluk yang menjadi basis militer AS, menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia kecam serangan yang tewaskan personel TNI UNIFIL di Lebanon
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi