DUNIA
2 menit membaca
Indonesia-Arab Saudi sepakati kerja sama investasi strategis melalui penanaman modal
Kedua negara sepakat memperkuat kerja sama investasi melalui pertukaran data, informasi peluang bisnis, pembaruan regulasi, konsultasi sektor swasta, promosi bersama, serta pertukaran pengetahuan dan tenaga ahli.
Indonesia-Arab Saudi sepakati kerja sama investasi strategis melalui penanaman modal
Investasi langsung Arab Saudi di Indonesia mencapai $126,2 juta sejak 2021 hingga semester pertama 2026. / Dok. Kementerian Investasi dan Hilirisasi

Indonesia dan Arab Saudi menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama dan promosi penanaman modal langsung untuk memperkuat hubungan ekonomi serta membuka peluang investasi lintas negara pada Selasa (4/8).

Kesepakatan tersebut ditandatangani Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani bersama Menteri Investasi Arab Saudi Fahad bin Abduljalil Al-Saif. Rosan menyebut MoU tersebut menjadi langkah strategis untuk mengubah hubungan baik kedua negara menjadi kemitraan ekonomi yang lebih kuat.

"Kami ingin melihat semakin banyak perusahaan Arab Saudi berinvestasi di Indonesia dan semakin banyak perusahaan Indonesia yang menjajaki peluang usaha di Arab Saudi. Kami juga ingin memperkuat kolaborasi di sektor-sektor strategis, mulai dari hilirisasi, manufaktur, infrastruktur, energi baru terbarukan, logistik, properti, hingga teknologi digital," ujar Rosan.

Ia mengatakan hubungan Indonesia dan Arab Saudi selama ini dibangun atas dasar kepercayaan, penghormatan, dan hubungan masyarakat yang telah berlangsung lama. Kementerian Investasi mencatat realisasi investasi langsung Arab Saudi di Indonesia mencapai $126,2 juta pada periode 2021 hingga semester pertama 2026.

Menurut Rosan, perubahan ekonomi global mendorong negara-negara membangun kemitraan yang lebih kuat. Investor kini mempertimbangkan stabilitas, kepastian regulasi, dan prospek jangka panjang.

"Arab Saudi tengah menjalankan agenda Vision 2030, sementara Indonesia terus mempercepat industrialisasi, hilirisasi, pembangunan infrastruktur, dan transformasi ekonomi. Kesamaan arah pembangunan tersebut membuka peluang kolaborasi yang sangat besar bagi kedua negara," katanya.

Melalui MoU tersebut, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama investasi melalui pertukaran data, informasi peluang bisnis, pembaruan regulasi, konsultasi sektor swasta, promosi bersama, serta pertukaran pengetahuan dan tenaga ahli.

Rosan menegaskan keberhasilan kerja sama ini akan diukur dari implementasi nyata yang mampu menghasilkan investasi baru, memperluas kemitraan usaha, dan menciptakan lapangan kerja.

MoU ini diharapkan mempercepat investasi di sektor prioritas seperti hilirisasi, manufaktur, infrastruktur, energi baru terbarukan, logistik, properti, dan teknologi digital.

SUMBER:TRT Indonesia