Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal pekan, seiring sentimen global yang kurang bersahabat dan kekhawatiran investor terhadap kondisi domestik.
Pada perdagangan Senin pagi, rupiah tercatat melemah 33 poin atau sekitar 0,19 persen ke level Rp17.630 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.597.
Bahkan dalam perdagangan awal, mata uang Indonesia sempat menyentuh rekor terendah baru di kisaran Rp17.668 per dolar AS, turun lebih dari 1 persen.
Pelemahan ini terjadi di tengah kombinasi tekanan eksternal dan domestik.
Kenaikan harga minyak global ke level tertinggi dalam dua pekan serta ketegangan geopolitik turut membebani pasar. Di dalam negeri, kekhawatiran terhadap rencana belanja pemerintah, transparansi pasar, dan independensi bank sentral juga memicu aksi jual.

‘Masyarakat desa tidak menggunakan dolar’
Pelemahan juga dipicu oleh indeks saham utama Jakarta yang anjlok lebih dari 4 persen setelah libur panjang, diperparah oleh keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah emiten dari indeks Indonesia.
Meski demikian, Presiden Prabowo Subianto menegaskan kondisi ekonomi nasional tetap kuat. Dalam kunjungannya ke Jawa Timur, ia menyatakan pelemahan rupiah tidak berdampak langsung pada masyarakat desa.
“Berapapun nilai tukar rupiah terhadap dolar, masyarakat desa tidak menggunakan dolar,” ujarnya. Ia juga menambahkan, “Percayalah ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat.”
Pemerintah berupaya meredam dampak tekanan global dengan meningkatkan anggaran subsidi bahan bakar, sementara bank sentral terus melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Otoritas moneter Indonesia yakni Bank Indonesia dijadwalkan menggelar rapat kebijakan bulanan pada Rabu, 20 Mei 2026 untuk merespons perkembangan tersebut.











