Pihak Pertamina International Shipping (PIS) menyatakan tengah memantau secara intensif dinamika yang terjadi di perairan tersebut. Vega Pita, selaku Pjs Sekretaris Perusahaan PIS, menegaskan bahwa koordinasi lintas sektoral terus dilakukan demi memastikan keselamatan aset negara tersebut.
"Kami terus berkoordinasi erat dengan pemangku kepentingan terkait, termasuk kementerian dan lembaga lainnya, sembari menyusun rencana lintasan yang aman," ujar Vega dalam pernyataan resminya di Jakarta.
Ia menekankan bahwa meskipun perusahaan berkomitmen untuk segera membawa muatan energi tersebut ke tanah air, faktor keselamatan kapal dan seluruh kru tetap menjadi prioritas utama di atas kepentingan operasional lainnya.
Upaya diplomasi Jakarta di Teheran
Ketegangan ini menempatkan diplomasi Indonesia dalam ujian nyata. Kementerian Luar Negeri RI melaporkan bahwa pemerintah Iran sebenarnya telah memberikan respons positif terhadap permintaan Jakarta untuk memberikan "jalur aman" bagi kedua kapal Pertamina.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran kini tengah mengawal aspek teknis dan operasional di lapangan. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian jadwal kapan Pertamina Pride dan Gamsunoro diizinkan melintasi selat yang dijaga ketat oleh militer Iran tersebut.
Eskalasi di tengah gencatan senjata yang rapuh
Langkah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran untuk menutup kembali akses pelayaran pada Sabtu (18/4) mengejutkan pasar global. Keputusan ini diambil hanya berselang satu hari setelah akses sempat dibuka kembali.
Pihak IRGC menyatakan bahwa penutupan ini merupakan respons langsung terhadap blokade pelabuhan Iran yang masih dilakukan oleh Amerika Serikat. "Kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke status sebelumnya. Jalur strategis ini berada di bawah manajemen dan kendali penuh angkatan bersenjata," tegas komando gabungan IRGC melalui kantor berita Tasnim.
Teheran bersikeras tidak akan melonggarkan pengawasan di Hormuz hingga Washington menjamin kebebasan navigasi penuh bagi kapal-kapal yang menuju dan berasal dari Iran. Perkembangan ini pun mengancam stabilitas gencatan senjata yang tengah berlangsung antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Bagi Indonesia, tertahannya dua kapal tanker ini bukan sekadar urusan logistik, melainkan menyangkut ketahanan energi nasional. Gangguan berkepanjangan di Hormuz dikhawatirkan dapat mengganggu rantai pasok minyak mentah yang sangat dibutuhkan untuk konsumsi domestik.












