Lembaga yang bertanggung jawab menjaga persenjataan nuklir Amerika Serikat mulai merumahkan sebagian besar stafnya, kata seorang pejabat, setelah upaya terbaru Kongres untuk mengakhiri shutdown pemerintahan kembali gagal.
Memasuki pekan keempat kebuntuan politik ini, sekitar 1.400 pegawai di National Nuclear Security Administration (NNSA) dijadwalkan menerima pemberitahuan cuti tanpa bayaran.
“Akibat shutdown yang disebabkan oleh Partai Demokrat, sekitar 1.400 pegawai federal NNSA akan dirumahkan mulai hari ini, 20 Oktober, dan hampir 400 pegawai federal NNSA akan tetap bekerja untuk melindungi properti dan keselamatan manusia,” ujar juru bicara Departemen Energi dalam pernyataannya.
Amerika Serikat memiliki 5.177 hulu ledak nuklir, dengan sekitar 1.770 di antaranya dalam kondisi siaga, menurut Bulletin of the Atomic Scientists.
NNSA, yang mengawasi 60.000 kontraktor, bertanggung jawab atas desain, produksi, pemeliharaan, dan keamanan senjata tersebut.
CNN melaporkan bahwa kebijakan furlough awalnya akan berdampak pada fasilitas perakitan senjata nuklir, termasuk Pantex di Texas dan Y-12 di Tennessee.
Memasuki hari ke-20, Amerika Serikat kini menghadapi shutdown penuh terpanjang dalam sejarah — dan menjadi yang ketiga terlama jika shutdown parsial turut dihitung.
Presiden Donald Trump meningkatkan tekanannya terhadap Partai Demokrat agar mendukung Partai Republik untuk membuka kembali pemerintahan.
“Kami berharap Partai Demokrat bisa sedikit kurang gila dan segera menyetujui pemungutan suara,” kata Trump.
Ketua DPR Mike Johnson memperingatkan bahwa kebijakan furlough ini menimbulkan “bahaya bagi rakyat Amerika.”
Ia mengatakan ketertinggalan dari para pesaing AS dalam kesiapan nuklir akan menjadi ancaman “sangat serius” bagi posisi negara itu sebagai “kekuatan besar terakhir di dunia.”

















