Inggris resmikan program Akselerator Keuangan Iklim di Indonesia

Sekitar sepuluh perusahaan akan dipilih dari sektor energi, pengelolaan limbah, pertanian, transportasi, proses industri dan penggunaan produk, serta kehutanan, sebagai bagian dari upaya mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon.

By
Indonesia dinilai sebagai salah satu pasar paling potensial di Asia Tenggara bagi investasi hijau dan solusi rendah karbon. / Arsip Reuters

Pemerintah Inggris resmi meluncurkan program Climate Finance Accelerator (CFA) di Indonesia dengan dibukanya pendaftaran proposal proyek iklim mulai Selasa. Program bantuan teknis global ini ditujukan untuk mempercepat pembiayaan proyek rendah karbon dan memperkuat aksi iklim nasional.

Peluncuran CFA disampaikan oleh Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, dalam keterangan resmi Kedutaan Besar Inggris di Jakarta. Ia menyebut program tersebut telah mendampingi lebih dari 200 perusahaan di berbagai negara dan memfasilitasi kesepakatan investasi senilai lebih dari $400 juta.

“Saya senang bahwa program yang sangat sukses ini kini hadir dan meluncurkan siklus pertamanya di Indonesia. Kami memahami bahwa bisnis-bisnis iklim yang tengah mencari pembiayaan dapat menghadapi tantangan untuk menjadi layak menerima investasi,” kata Jermey.

Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis dalam agenda iklim global sekaligus menjadi rumah bagi wirausahawan iklim yang inovatif. Ia berharap CFA dapat membantu para pelaku usaha terpilih mengakses pendanaan dan mempercepat realisasi proyek berkelanjutan.

“Kami berharap dapat memberikan dukungan kepada para pelaku bisnis yang terpilih untuk mendapatkan investasi,” ujarnya.

Investasi hijau

Pembukaan pendaftaran CFA juga disebut sebagai langkah lanjutan dari Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia yang sebelumnya diumumkan oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bersama Presiden Prabowo Subianto di London.

“Kemitraan ini kembali ditegaskan melalui akselerator yang memberi manfaat bagi inovator di Indonesia serta investor Inggris dan global, mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan memperkuat kerja sama iklim dan pembiayaan berkelanjutan. CFA menjadi contoh nyata perwujudan visi tersebut,” kata Jermey.

CFA dirancang sebagai program bantuan teknis internasional untuk mendukung implementasi Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia dengan mempertemukan pelaku usaha dan investor guna mengembangkan proyek iklim berskala besar. Program ini sejalan dengan target nasional Indonesia mencapai emisi nol bersih pada 2060.

Dengan kebutuhan pembiayaan iklim yang diperkirakan mencapai $472,6 miliar atau sekitar Rp7,9 kuadriliun, Indonesia dinilai sebagai salah satu pasar paling potensial di Asia Tenggara bagi investasi hijau dan solusi rendah karbon.

Sekitar sepuluh perusahaan akan dipilih dari sektor energi, pengelolaan limbah, pertanian, transportasi, proses industri dan penggunaan produk, serta kehutanan dan penggunaan lahan lainnya, sebagai bagian dari upaya mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia.