Serangan udara Israel telah menewaskan setidaknya 12 orang di Lebanon sejak Kamis dini hari, menargetkan dua kendaraan dan bangunan tempat tinggal dalam serangan di selatan dan utara negara itu, kata otoritas dan media Lebanon.
Kementerian kesehatan mengatakan dua orang tewas dan dua lainnya terluka dalam serangan drone Israel yang mengenai sebuah mobil di daerah Zahle di Lebanon timur.
Tiga orang lagi tewas ketika sebuah drone Israel mengenai sebuah mobil di jalan Tyre-Naqoura dekat kota Qlailah di distrik Tyre di Lebanon selatan, lapor National News Agency (NNA) yang dikelola negara.
Serangan udara Israel lainnya mengenai sebuah rumah pada fajar di kota selatan Kfour di distrik Nabatieh, menewaskan wali kota kota itu dan istrinya, menurut agensi.
Tim penyelamat bekerja untuk mengevakuasi jenazah mereka dari bawah reruntuhan, tambah agensi itu.
NNA mengatakan serangan Israel lain menewaskan seorang anggota Hamas dan istrinya di kamp pengungsi Beddawi di kota utara Tripoli. Salah satu putri mereka terluka dan dibawa ke rumah sakit.
Pesawat tempur juga melakukan serangan udara berat di kota Qabrikha di distrik Marjayoun di Lebanon selatan, menewaskan seorang pria, istrinya, dan putra mereka, menurut agensi.
Serangan udara Israel juga mengenai sebuah rumah di kota Shaabiyeh di Tyre, namun belum ada rincian mengenai korban.
Situasi meningkat di Lebanon pada hari Senin setelah Hizbullah menargetkan sebuah situs militer di Israel utara dengan roket dan drone sebagai balasan terhadap serangan udara Israel yang sedang berlangsung dan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel.
Tentara Israel melancarkan serangkaian serangan udara sebagai tanggapan, menewaskan sedikitnya 72 orang dan melukai hampir 450 lainnya. Militer juga melancarkan serangan darat ke selatan Lebanon.
Israel berulang kali melanggar perjanjian gencatan senjata November 2024 dengan Lebanon, melakukan serangan hampir setiap hari yang telah menewaskan dan melukai ratusan orang.
Israel memulai ofensif terhadap Lebanon pada Oktober 2023 dan meningkatkannya menjadi perang skala penuh pada September 2024, menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai sekitar 17.000.








