ASIA
2 menit membaca
Pemerintah pangkas subsidi, harga BBM melonjak tajam dan picu panic buying di Thailand
Di Thailand, kenaikan harga mencapai sekitar lebih dari 20 persen untuk beberapa jenis BBM dalam semalam setelah pemerintah mengatakan bahwa kebijakan subsidi tidak lagi dapat dilanjutkan.
Pemerintah pangkas subsidi, harga BBM melonjak tajam dan picu panic buying di Thailand
Para pengendara kendaraan mengantre untuk mengisi bahan bakar di sebuah SPBU di Bangkok, Thailand, 26 Maret 2012. / Reuters
12 jam yang lalu

Harga bahan bakar ritel di Thailand melonjak tajam pada Kamis (26/3) setelah pemerintah memangkas subsidi energi secara signifikan, langkah yang diambil di tengah kenaikan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah. 

Kenaikan harga yang terjadi mendadak memicu aksi pembelian panik di berbagai wilayah karena kekhawatiran pasokan akan menipis. Ribuan warga dengan kendaraan masing-masing terlihat mengantri di SPBU-SPBU di berbagai wilayah.

Menurut laporan media lokal, harga diesel melonjak sekitar 18 persen, sementara jenis bahan bakar lain juga mengalami kenaikan lebih kecil. 

Di SPBU milik perusahaan energi negara PTT, harga diesel berkecepatan tinggi naik menjadi 38,94 baht (sekitar US$1,19) per liter. Sementara itu, gasohol 91 dan gasohol 95 masing-masing naik hingga sekitar US$1,24 dan US$1,25 per liter. 

Secara keseluruhan, kenaikan harga mencapai sekitar 6 baht per liter dalam semalam—lebih dari 20 persen untuk beberapa jenis BBM.

TerkaitTRT Indonesia - Negara-negara Asia terapkan darurat energi setelah Selat Hormuz lumpuh

Pemerintah menyatakan tidak lagi mampu mempertahankan kebijakan pembatasan harga secara luas karena beban fiskal yang semakin besar. 

Sebagai gantinya, bantuan akan difokuskan pada kelompok rentan seperti rumah tangga berpenghasilan rendah, petani, dan pengemudi truk.

Menteri Keuangan Thailand Ekniti Nitithanprapas mengatakan bahwa kontrol harga sebelumnya telah “mendistorsi pasar, mendorong penimbunan, dan menciptakan beban fiskal yang tidak perlu.” 

Ia menambahkan bahwa subsidi kini dikurangi untuk berbagai jenis bahan bakar, sementara dukungan untuk gasohol E85 dihentikan sepenuhnya.

Lonjakan konsumsi juga tercatat sejak pecahnya konflik, ketika kekhawatiran akan kenaikan harga memicu aksi penimbunan oleh masyarakat. Kondisi ini berkontribusi pada kelangkaan BBM di ratusan SPBU, meskipun pemerintah menegaskan cadangan nasional masih dalam kondisi memadai.

Dalam tiga pekan terakhir, Anggaran subsidi Thailand untuk Bahan Bakar Minyak telah menghabiskan sekitar US$610 juta untuk menjaga harga tetap rendah. Namun, pejabat menilai kebijakan tersebut tidak lagi dapat dilanjutkan, terutama jika harus dibiayai melalui penambahan utang.

SUMBER:AA, TRT Indonesia