Permainan angka di langit: Gelombang rudal Iran uji batas pertahanan

Dengan memadukan rudal lama dengan sistem yang dapat bermanuver dan drone, Iran mengubah aksi balasan menjadi uji berlapis terhadap kejenuhan pertahanan dan kemacetan di medan tempur.

By Hursit Dingil
Iran dilaporkan telah mempercepat pengisian kembali pasokan rudal balistiknya sejak Perang 12 Hari dengan Israel Juni lalu. / Reuters

Ketika Iran melancarkan operasi ‘True Promise-4’ pada 28 Februari 2026, ini bukan sekadar aksi balasan biasa.

Langkah ini lebih terukur: sebuah tes tekanan besar-besaran terhadap pertahanan udara regional, ambang eskalasi, dan aset strategis.

Serangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap serangan terkoordinasi AS dan Israel di wilayah Iran.

Namun jawaban Teheran bukanlah improvisasi.

Ini mengikuti pola yang telah diamati sejak April–Oktober 2024 dan Juni 2025.

Dengan tetap menggunakan label ‘True Promise’, Iran memberi sinyal kontinuitas: ini bagian dari kampanye jangka panjang, bukan respons sekali saja.

Inti strategi Iran sederhana: jika pencegahan gagal, balasan harus tetap kredibel.

Selama bertahun-tahun, kredibilitas itu bertumpu pada dua pilar: jaringan proksi regional dan arsenal rudal balistik.

Namun setelah serangan SEAD Israel sepanjang 2024 dan selama “konflik 12 hari” pada 13 Juni 2025, keseimbangan itu berubah. Sebagian besar jaringan depan Iran mengalami kerusakan.

Maka Iran mengandalkan apa yang masih sepenuhnya mereka kuasai: rudal dan drone kamikaze.

Dan mereka menggunakannya dalam skala besar.

Salvo pertama terjadi sekitar pukul 11:10 waktu Türkiye (UTC+3) dengan sekitar 30 rudal balistik. Pada pukul 11:28, gelombang kedua mengikuti.

Gelombang berikutnya terus berlangsung hingga malam hari. Selama 15 hari berikutnya, operasi ini berkembang menjadi sekitar 54 gelombang serangan gabungan rudal balistik dan drone loitering.

Angka-angka ini tidak sepenuhnya konsisten; hal ini umum dalam konflik yang sedang berlangsung.

Namun, perkiraan sumber terbuka yang saling merujuk menunjukkan antara 750 hingga 1.100 rudal balistik dan sekitar 2.800 hingga 3.200 drone kamikaze telah diluncurkan di seluruh wilayah.

Pejabat Iran, sementara itu, mengklaim sekitar 700 rudal balistik dan 3.600 drone.

Meski ada perbedaan angka, skala serangan ini sulit diabaikan.

Permainan angka

Secara keseluruhan, data ini menimbulkan keraguan serius terhadap keandalan perkiraan stok sebelum perang dan saat perang, yang sering disebut “2.000–3.000”.

Israel merespons dengan sistem pertahanan berlapisnya: Arrow-2, Arrow-3, David’s Sling, dan THAAD.

Namun pada fase awal konflik, terdapat indikasi bahwa interceptor Arrow-3 digunakan lebih selektif. Ini kemungkinan mencerminkan realitas sederhana: stok interceptor sama pentingnya dengan teknologi.

Pertahanan rudal, dalam sebagian, adalah permainan angka.

Iran tampak bermain dengan cermat. Salah satu aspek paling menonjol dari ‘True Promise-4’ adalah kombinasi jenis rudalnya.

Sistem bahan bakar padat terbaru, seperti Fattah-1 (2023) dan Kheibar Shekan (2022), digunakan bersamaan dengan rudal bahan bakar cair lama, seperti varian Shahab-3 (2003/2007) dan Emad. Ini bukan redundansi; ini lapisan yang disengaja.

Sistem baru dilengkapi dengan kendaraan masuk ulang yang dapat bermanuver (hybrid MaRV+TVC). Selama fase terminal, mereka dapat bermanuver dengan kecepatan lebih dari Mach 5, menyulitkan intersepsi oleh sistem seperti THAAD dan Arrow.

Namun penting untuk tepat: ini bukan “true” hypersonic glide vehicle. Keunggulannya terletak pada kemampuan bermanuver saat masuk ulang, bukan penerbangan hipersonik berkelanjutan.

Sementara itu, sistem lama masih penting.

Ditembak dalam jumlah besar, mereka berfungsi untuk jenuhkan pertahanan, memaksa pihak lawan menghabiskan interceptor.

Di sinilah asimetri biaya menjadi kritis: rudal berbiaya relatif rendah bisa memicu peluncuran interceptor yang jauh lebih mahal. Seiring waktu, ketidakseimbangan ini bertambah.

Iran juga tampaknya mengandalkan kepala hulu tipe cluster. Sistem seperti Ghadr-F dan Khorramshahr-4 dilaporkan menggunakan submunisi.

Gambar sumber terbuka menunjukkan Khorramshahr-4 dapat membawa hingga 80 bom kecil, masing-masing sekitar 18 kg, dengan total massa hulu ledak mendekati 1.800 kg.

Bukti terlihat pada 5 Maret 2026 (gelombang ke-19) menarget Tel Aviv dan Bandara Ben Gurion, serta selama gelombang berikutnya (22, 23, 43, dan 44) di wilayah utara dan tengah Israel. Skala kerusakan yang diamati konsisten dengan efek submunisi area luas.

Waktu terbang rudal balistik jarak menengah ini, biasanya dengan jangkauan 1.100–1.600 km, sekitar 7–13 menit, tergantung lokasi peluncuran. Lokasi peluncuran termasuk Shiraz, Isfahan, Yazd, Damavand, dan wilayah Alborz (Pardis).

Bersamaan dengan itu, Iran memanfaatkan sistem jarak pendek dengan efektif. Keluarga Fateh, termasuk Fateh-110, Fateh-313, dan Raad-500, dengan jangkauan 200–800 km, digunakan untuk serangan yang lebih presisi.

Ini bukan hal baru. Akurasi serupa terlihat pada 2020 (Pangkalan Udara Ayn al-Asad) dan 2022 (Erbil). Dalam serangan ini, rudal tampak menarget aset bernilai tinggi di Yordania dan Teluk, termasuk radar dan sistem peringatan dini.

Logika penargetannya sederhana: rusak sensor, dan seluruh sistem pertahanan menjadi kurang efektif.

Apa yang terlihat sebenarnya adalah pertempuran atas kemacetan.

Bagi AS dan Israel, tujuan utama adalah melacak dan menghancurkan peluncur bergerak (TEL), mengurangi laju tembakan Iran.

Bagi Iran, fokusnya adalah target bernilai tinggi dan bertekanan rendah: baterai Patriot dan THAAD, sistem radar seperti AN/TPY-2 dan AN/FPS-132, serta node kritis lain.

Kemacetan lain adalah stok interceptor. Peluncuran berkelanjutan memaksa keputusan sulit, seperti interceptor mana yang diprioritaskan dan mana yang dilewatkan.

Iran juga tampaknya memperluas medan tempur di luar target militer langsung.

Ancaman terhadap infrastruktur energi, kapal tanker, dan bandara di negara Teluk yang menampung aset militer dan finansial AS menunjukkan strategi tekanan ekonomi yang lebih luas, meningkatkan biaya konflik di tingkat regional dan global.

Dan ada pula aspek psikologis dari uji coba ini.

Gelombang berulang, target perkotaan, dan penggunaan submunisi semuanya menimbulkan tekanan berkelanjutan pada penduduk sipil. Ini bukan kebetulan. Ini bagian dari sinyal yang dikirim.

Jadi apa yang berubah?

Bukan fundamentalnya. Iran masih mengandalkan rudal sebagai pencegah utama. Tapi cara penggunaannya berkembang. Kini ada koordinasi lebih, lapisan lebih, dan hubungan yang lebih jelas antara pilihan taktis dan hasil strategis.

Rudal lama untuk jenuhkan pertahanan. Rudal baru untuk penetrasi. Drone untuk keberlanjutan.

Ini bukan perubahan radikal. Tapi signifikan.

Dan mungkin pelajaran terpenting: keseimbangan antara kemampuan rudal ofensif dan sistem pertahanan di kawasan tidak statis.

Ini diuji, gelombang demi gelombang, hari demi hari.

Bagi pengamat, pelajaran kuncinya bukan sekadar skala operasi, tapi keberlanjutannya. Jika Iran mampu mempertahankan tempo ini, pertanyaan serius muncul tentang keseimbangan jangka panjang antara kekuatan rudal ofensif dan sistem pertahanan di wilayah itu.

Dan keseimbangan itu, semakin hari, mungkin akan menentukan fase berikutnya dari konflik.