Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia melonjak tajam sepanjang Juli 2026 menyusul menguatnya fenomena anomali cuaca El Nino. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan hampir 95.000 hektare lahan hangus terbakar hanya dalam kurun waktu satu bulan, nyaris melipatgandakan total akumulasi kerusakan selama enam bulan sebelumnya.
Secara kumulatif, luas area yang terbakar di tanah air sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 202.004 hektare. Angka tersebut melonjak signifikan dibandingkan periode Januari hingga Juni yang mencatat luasan 107.465 hektare.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa intensitas indeks El Nino per pertengahan Agustus telah melampaui kondisi pada 2015, periode terakhir saat anomali cuaca kering ekstrem tersebut melanda kawasan. Kendati demikian, dampak luasan karhutla saat ini tercatat masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2015, yang kala itu melahap lebih dari 600.000 hektare.
"Luas wilayah terdampak memang telah melampaui level tahun 2019 dan 2023. Namun, dengan kondisi El Nino yang mirip dengan 2015, dampaknya masih berada di bawah angka 2015. Ini yang terus kami tangani secara intensif," ujar Raja Juli dalam rapat kerja bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (18/8).
Sebagai langkah mitigasi darurat, pemerintah telah menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah provinsi rawan karhutla sejak Februari hingga Juli untuk memicu hujan buatan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan fenomena El Nino berpotensi bertahan hingga awal 2027, dengan masa kritis puncak karhutla diprediksi berlangsung sepanjang Agustus hingga September.
Sementara itu, otoritas terkait berencana membuka kembali akses ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur setelah tim gabungan berhasil mengendalikan api. Kebakaran di destinasi wisata unggulan tersebut dilaporkan sempat membakar area seluas lebih dari 1.100 hektare.




















