Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk mempersiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan dunia kerja yang dipicu perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan transformasi teknologi. Komitmen tersebut disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam Sidang Pleno Konferensi Perburuhan Internasional (International Labour Conference/ILC) ke-114 di Jenewa, Swiss.
Dalam forum yang diselenggarakan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) tersebut, Yassierli menjelaskan bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menempatkan pengembangan sumber daya manusia, perluasan kesempatan kerja, serta perlindungan pekerja sebagai pilar utama menghadapi masa depan dunia kerja.
“Perubahan teknologi tidak boleh membuat pekerja tertinggal. Karena itu, Indonesia menyiapkan keterampilan, memperluas peluang kerja, dan memperkuat pelindungan pekerja agar masyarakat tetap memiliki masa depan kerja yang layak,” kata Yassierli.
Program pelatihan vokasi
Selain itu, pemerintah juga mengembangkan Program Pelatihan Vokasi Nasional yang ditujukan bagi lulusan sekolah menengah atas dan sederajat. Dalam pidatonya di ILC, Yassierli menyebut program tersebut ditargetkan menjangkau 70 ribu peserta, sementara dalam forum Asia Pacific Group (ASPAG) pemerintah menyampaikan target pelaksanaan hingga 300 ribu peserta.
Menaker menilai kawasan Asia Pasifik tengah menghadapi beragam tantangan di sektor ketenagakerjaan, mulai dari tingginya angka pengangguran, bertambahnya pekerjaan informal, dampak perkembangan teknologi dan AI terhadap lapangan kerja, hingga perlunya kebijakan yang lebih inklusif.
Di bidang perlindungan pekerja, Indonesia juga menegaskan komitmennya terhadap standar ketenagakerjaan internasional melalui penyampaian instrumen ratifikasi Konvensi ILO Nomor 188 mengenai pekerjaan di sektor penangkapan ikan. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat aspek keselamatan, kesehatan kerja, dan kesejahteraan para awak kapal perikanan.











