BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Ekonomi global dalam “ancaman besar” akibat krisis Selat Hormuz — kepala IEA
Fatih Birol mengatakan tidak ada negara yang akan kebal dari dampak krisis saat ini jika terus berlanjut.
Ekonomi global dalam “ancaman besar” akibat krisis Selat Hormuz — kepala IEA
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional Fatih Birol berbicara di Klub Pers Nasional di Canberra. / Reuters
15 jam yang lalu

Perekonomian global berada dalam “ancaman besar” akibat krisis energi yang dipicu perang di Iran, demikian disampaikan Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol. Ia memperingatkan bahwa “tidak ada negara yang akan kebal” terhadap dampaknya.

Berbicara di National Press Club di ibu kota Australia pada Senin, Birol membandingkan krisis energi saat ini dengan krisis pada 1970-an serta dampak perang Rusia di Ukraina pada 2022.

“Krisis ini, dalam kondisi saat ini, merupakan gabungan dari dua krisis minyak dan satu kejatuhan gas yang terjadi bersamaan,” ujarnya.

“Perekonomian global saat ini menghadapi ancaman yang sangat, sangat besar, dan saya sangat berharap masalah ini bisa segera diselesaikan,” tambah Birol.

“Tidak ada satu pun negara yang akan kebal dari dampak krisis ini jika terus bergerak ke arah seperti sekarang. Karena itu, diperlukan upaya global,” lanjutnya.

Presiden AS Donald Trump dan Teheran saling melontarkan ancaman ketika perang memasuki pekan keempat. Trump menuntut Iran membuka kembali Selat Hormuz yang saat ini diblokir—jalur yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia.

Kemacetan di jalur tersebut hampir menghentikan seluruh pengiriman minyak melalui perairan sempit itu, sekaligus mendorong lonjakan harga minyak global.

Potensi pelepasan cadangan minyak tambahan

IEA saat ini tengah berkonsultasi dengan pemerintah di Asia dan Eropa terkait kemungkinan pelepasan tambahan cadangan minyak, “jika diperlukan,” seiring dampak perang Iran, kata Birol.

“Jika diperlukan, tentu kami akan melakukannya. Kami akan melihat kondisi, menganalisis pasar, dan berdiskusi dengan negara anggota,” jelasnya.

Negara-negara anggota IEA pada 11 Maret telah sepakat untuk melepas rekor 400 juta barel minyak dari cadangan strategis guna meredam lonjakan harga minyak dunia.

Birol menambahkan tidak akan ada batas harga minyak tertentu yang menjadi pemicu otomatis untuk pelepasan tambahan tersebut.

Ia menggambarkan krisis di Timur Tengah saat ini sebagai situasi yang “sangat parah.”

SUMBER:TRT World & Agencies