Pemerintah Indonesia bersama Amerika Serikat resmi meluncurkan proyek bilateral berdurasi dua tahun untuk melestarikan bangkai kapal perang USS Houston yang tenggelam di perairan Selat Sunda. Inisiatif ini berfokus pada perlindungan situs sejarah bawah laut dari ancaman kerusakan lingkungan serta aksi penjarahan ilegal.
Proyek bertajuk USS Houston Shipwreck Preservation Project ini didanai melalui US Ambassador's Fund for Cultural Preservation (AFCP). Selain menjaga fisik bangkai kapal, kerja sama ini bertujuan untuk menyusun protokol ilmiah dalam pengelolaan situs arkeologi bawah laut jangka panjang.
Kapal penjelajah berat milik Angkatan Laut AS tersebut tenggelam saat Pertempuran Selat Sunda pada tahun 1942 silam. Situs ini merupakan kuburan perang resmi (war grave) sekaligus persemayaman terakhir bagi lebih dari 650 prajurit Angkatan Laut dan Korps Marinir AS.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), I Nyoman Radiarta, menegaskan pentingnya menjaga situs sejarah bawah laut tersebut.
"Melalui partisipasi dan dukungan terhadap AFCP, kita tidak hanya melindungi sejarah, tetapi juga menghormati jiwa-jiwa pemberani yang bersemayam di sana serta memastikan sejarah bersama kita tetap terjaga," ujar Nyoman dalam acara peluncuran proyek di Jakarta pada Rabu (21/10).
Selain konservasi fisik, proyek ini memprioritaskan peningkatan kapasitas tenaga ahli lokal, riset mendalam, serta pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga cagar budaya bawah laut. Langkah ini diluncurkan menjelang gelaran Konferensi Asia-Pasifik tentang Warisan Budaya Maritim dan Bawah Laut (APCONF 2026) yang bakal digelar KKP di Denpasar, Bali, pada 28–31 Oktober mendatang.




















