Putin undang Presiden Prabowo untuk kembali kunjungi Rusia pada Mei dan Juli mendatang

Presiden Vladimir Putin secara khusus mengundang Presiden RI Prabowo Subianto untuk menghadiri dua forum internasional besar di Kazan dan Ekaterinburg, mempertegas penguatan kemitraan strategis Jakarta-Moskow.

By
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tiba di Moskow, Rusia, pada Senin (13/4). / AP

Diplomasi antara Jakarta dan Moskow tampaknya akan semakin intensif dalam beberapa bulan ke depan. Belum lama usai pertemuan di Kremlin awal pekan ini, Presiden Rusia Vladimir Putin sudah meminta Presiden Prabowo Subianto untuk kembali menyambangi negaranya guna menghadiri dua agenda internasional penting di Kazan dan Ekaterinburg.

Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh Menteri Luar Negeri RI, Sugiono. Ia mengungkapkan bahwa undangan tersebut disampaikan Putin sebagai bentuk komitmen untuk memperdalam kemitraan strategis dengan Indonesia.

"Presiden Putin mengundang Presiden Prabowo untuk hadir di acara bulan Mei di Kazan, serta pameran industri besar pada Juli nanti," ujar Sugiono dalam pernyataan resminya melalui kanal Sekretariat Presiden.

Menilik agenda di Kazan dan Ekaterinburg

Undangan ini merujuk pada dua perhelatan bergengsi yang menjadi andalan Rusia dalam memacu ekonomi dan inovasinya:

  • Mei (Kazan): Forum Ekonomi Internasional "Russia - Islamic World: Kazan Forum". Mengingat status Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, kehadiran Prabowo di Tatarstan dinilai sangat strategis bagi Rusia untuk memperkuat jembatan ekonomi dengan dunia Islam.
  • Juli (Ekaterinburg): International Innovation Industry Expo 2026. Ajang ini menjadi sasaran pemerintah Indonesia yang tengah gencar melakukan hilirisasi industri dan mencari mitra teknologi tinggi.

Lebih dari sekadar kunjungan formal

Pertemuan di Moskow sebelumnya sudah meletakkan fondasi kuat bagi kerja sama kedua negara. Dilansir dari Anadolu Agency dan sumber internal Kremlin, Putin menaruh harapan besar agar kedekatan ini mampu mendongkrak angka perdagangan bilateral yang sempat fluktuatif.

Indonesia dan Rusia sepakat untuk tancap gas di sektor-sektor krusial, mulai dari energi, pertanian, hingga industri farmasi. Bahkan, kedua negara mulai melirik kerja sama di bidang teknologi luar angkasa yang selama ini menjadi keunggulan Rusia.

Bagi Indonesia, undangan bertubi-tubi dari Kremlin ini menunjukkan posisi tawar Jakarta yang semakin diperhitungkan. Di bawah kepemimpinan Prabowo, Indonesia terus bermanuver dengan politik luar negeri bebas aktif—menjalin kemitraan tanpa harus memihak, demi mengamankan kepentingan ekonomi dan transfer teknologi bagi publik dalam negeri.