Iran menyatakan tidak menginginkan serangan baru, tetapi akan membalas “lebih kuat dari sebelumnya” jika kembali menjadi target, kata juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani dalam sebuah wawancara dengan kantor berita resmi IRNA.
“Kami tidak ingin menghadapi serangan baru, tetapi jika itu terjadi, kami pasti akan merespons lebih kuat dari sebelumnya,” ujarnya.
Mohajerani mengatakan Iran saat ini menjalankan strategi diplomasi dan pertahanan secara bersamaan, dengan menegaskan bahwa kedua pendekatan tersebut bertujuan melindungi kedaulatan dan martabat nasional.
Ia menambahkan bahwa pasukan pertahanan Iran berada dalam status siaga penuh, dan menyebut pendekatan negara itu sebagai “bernegosiasi sambil tetap siap”, yang menegaskan kesiapan di jalur diplomatik maupun militer.
Juru bicara tersebut juga menyatakan keyakinannya terhadap tim perunding Iran, dengan mengatakan bahwa tim tersebut menggabungkan pengalaman lapangan dan keahlian diplomatik serta tidak akan mengorbankan kepentingan nasional.
Ia menegaskan bahwa pemerintah sepenuhnya mendukung keputusan dan hasil yang dicapai oleh tim perunding tersebut.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari. Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan ke Israel serta sejumlah negara regional yang menjadi lokasi aset militer AS.
Pakistan menjadi tuan rumah putaran pertama perundingan damai pada 11 April setelah memediasi gencatan senjata dua minggu yang dimulai pada 8 April dan akan berakhir pada Rabu. Putaran kedua negosiasi diperkirakan berlangsung minggu ini, juga di Islamabad.








