ASEAN percepat skema berbagi minyak, kekhawatiran naik di Asia Pasifik atas gangguan pasokan energi
Negara-negara ASEAN mempercepat mekanisme kerjasama yang memungkinkan negara anggota saling memasok minyak atau gas ketika salah satu negara mengalami kekurangan pasokan serius.
Negara-negara Asia Tenggara mempercepat upaya memperkuat ketahanan energi regional di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Para menteri ekonomi dari negara-negara anggota ASEAN sepakat mempercepat penerapan mekanisme berbagi energi melalui Asean Petroleum Security Agreement (APSA).
Skema yang memungkinkan negara anggota saling memasok minyak atau gas ketika salah satu negara mengalami kekurangan pasokan serius.
Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN di Taguig, Filipina. Wakil Menteri Perdagangan Filipina Allan Gepty mengatakan para menteri sepakat mempercepat penyelesaian perjanjian tersebut sebelum KTT ASEAN pada Mei mendatang.
Di bawah mekanisme APSA, sebuah negara dapat mengajukan pemberitahuan darurat kepada Sekretariat Dewan Perminyakan ASEAN jika mengalami “kekurangan kritis”, yakni ketika pasokan energi domestik berkurang sedikitnya 10 persen dari kebutuhan normal selama setidaknya 30 hari.
Negara-negara anggota lain kemudian diharapkan menyediakan pasokan minyak setara sekitar 10 persen dari kebutuhan negara yang terdampak.
Namun mekanisme berbagi ini bersifat sukarela dan dilakukan secara komersial, sehingga negara yang membutuhkan tetap harus membeli minyak dengan harga pasar yang berlaku.
Keamanan energi di Indo-Pasifik
Sementara itu di Tokyo, pejabat pemerintah dan pelaku bisnis dari 18 negara Indo-Pasifik termasuk Indonesia juga menegaskan komitmen untuk memperkuat keamanan energi kawasan.
Dalam Forum Menteri dan Bisnis Keamanan Energi Indo-Pasifik yang diselenggarakan Jepang dan Amerika Serikat, para peserta menekankan pentingnya investasi pada infrastruktur energi yang stabil, termasuk tenaga nuklir dan gas alam cair.
Forum ini dihadiri langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI, Bahlil Lahadalia dimana ia menegaskan bahwa kolaborasi yang saling menguntungkan adalah kunci untuk menghadapi krisis energi hari ini.
Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum mengatakan memperkuat kemitraan di seluruh Indo-Pasifik sangat penting untuk keamanan dan kemakmuran globa, ia juga menyatakan Washington akan memperluas ekspor energi dan menghadapi pihak yang menggunakan energi sebagai alat tekanan geopolitik.
Di sela forum tersebut, Jepang dan AS juga sepakat membentuk tim respons cepat untuk menangani gangguan rantai pasokan mineral penting serta memperdalam kerja sama di sektor tersebut.
Langkah tersebut diambil ketika konflik di Timur Tengah terus meningkat dan Selat Hormuz terganggu, sebuah jalur penting bagi ekspor minyak ke Asia yang telah memicu lonjakan harga energi global.
Negara-negara Asia Tenggara sangat bergantung pada impor minyak mentah dari Timur Tengah, sehingga gangguan pasokan dapat berdampak langsung pada biaya transportasi, logistik, dan harga kebutuhan pokok.