Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 17 Maret, menandai enam rapat berturut-turut tanpa perubahan kebijakan, menurut perkiraan sejumlah ekonom.
Tekanan terhadap rupiah akibat konflik di Timur Tengah dinilai membatasi ruang bank sentral untuk segera melonggarkan kebijakan moneter.
Survei Reuters terhadap 26 ekonom pada 9–12 Maret menunjukkan 24 responden memperkirakan BI akan menahan suku bunga seven-day reverse repo rate di 4,75 persen. Sementara itu, suku bunga fasilitas simpanan diperkirakan tetap di 3,75 persen dan fasilitas pinjaman di 5,50 persen.
Meski sebelumnya memberi sinyal ingin mendukung pertumbuhan ekonomi, BI tidak mengubah kebijakan sejak Oktober setelah pelemahan rupiah memaksa bank sentral memprioritaskan stabilitas mata uang.
Tekanan pasar juga dipicu kekhawatiran investor terhadap rencana belanja Presiden Prabowo Subianto serta perdebatan mengenai independensi bank sentral.
Situasi diperparah oleh konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang memicu volatilitas pasar. Rupiah bahkan sempat menyentuh rekor terendah baru dan telah melemah lebih dari 1 persen sepanjang tahun ini setelah turun sekitar 4 persen pada tahun lalu.
“Bank sentral kemungkinan akan menahan suku bunga karena pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir, terutama setelah konflik AS–Iran,” kata Tay Qi Hang dari Economist Intelligence Unit.
Ke depan, sebagian ekonom masih memperkirakan penurunan suku bunga pada kuartal kedua, meski waktunya bisa mundur hingga pertengahan tahun.
Lebih dari separuh ekonom yang disurvei memperkirakan suku bunga BI akan berakhir sekitar 50 basis poin lebih rendah pada akhir tahun, yakni di kisaran 4,25 persen.







