Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sepakat untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi terkait isu internasional dan regional di tengah perang Iran, kata China pada Jumat.
Kedua pemimpin disebut telah melakukan “pertukaran pandangan yang mendalam” mengenai isu-isu utama yang menyangkut kedua negara dan dunia, serta mencapai serangkaian “pemahaman bersama yang baru,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah pernyataan, seiring kunjungan perdana presiden AS ke China sejak 2017.
Keduanya juga menyepakati “visi baru untuk membangun hubungan China–AS yang konstruktif dengan stabilitas strategis guna memberikan arahan strategis bagi hubungan kedua negara dalam tiga tahun ke depan dan seterusnya, mendorong perkembangan yang stabil, sehat, dan berkelanjutan, serta membawa lebih banyak perdamaian, kemakmuran, dan kemajuan bagi dunia,” ujar juru bicara tersebut.
Xi dan Trump juga mencapai “pemahaman penting bersama dalam menangani kekhawatiran masing-masing secara tepat,” tambahnya.
Interaksi kedua pemimpin disebut telah memperkuat “saling pengertian, memperdalam kepercayaan, memajukan kerja sama praktis, meningkatkan manfaat bagi masyarakat kedua negara, serta memberikan stabilitas dan kepastian yang sangat dibutuhkan dunia.”
Pada Kamis, Trump mengatakan Xi menyampaikan bahwa Beijing tidak akan menyediakan peralatan militer kepada Iran dan mendukung pembukaan kembali Selat Hormuz.
“Ia mengatakan dia tidak akan memberikan peralatan militer. Itu pernyataan besar,” kata Trump.
China: tidak ada gunanya lanjutkan perang Iran
Sementara itu, China pada Jumat mengatakan “tidak ada gunanya melanjutkan” perang AS/Israel terhadap Iran saat Xi menjamu Trump di hari terakhir pertemuan puncak mereka di Beijing.
“Tidak ada gunanya melanjutkan konflik ini, yang seharusnya tidak terjadi sejak awal,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China menanggapi pertanyaan soal pembahasan Iran dan posisi Beijing terhadap perang tersebut.
“Menemukan jalan awal untuk menyelesaikan situasi ini tidak hanya demi kepentingan AS dan Iran, tetapi juga negara-negara kawasan dan dunia,” ujarnya.
Dengan dibukanya kembali ruang dialog, “hal itu tidak boleh ditutup kembali,” tambahnya, seraya mendorong upaya menjaga momentum deeskalasi, mendorong penyelesaian politik, serta dialog untuk mencapai kesepakatan terkait isu nuklir Iran dan persoalan lainnya.
Juru bicara itu juga menekankan pentingnya membuka kembali jalur pelayaran “secepat mungkin” demi menjaga rantai pasok global tetap stabil dan lancar.
“Penting untuk mencapai gencatan senjata yang komprehensif dan berkelanjutan secepat mungkin, agar perdamaian dan stabilitas kembali ke kawasan Timur Tengah dan Teluk, serta membangun fondasi arsitektur keamanan berkelanjutan di kawasan tersebut,” tambahnya.
Trump mengatakan dalam wawancara dengan FOX News pada Kamis bahwa Xi “ingin melihat kesepakatan tercapai.”
“Ia berkata, ‘Jika saya bisa membantu, saya ingin membantu.’ Siapa pun yang membeli minyak sebanyak itu jelas punya hubungan tertentu, tetapi dia ingin melihat Selat Hormuz dibuka,” kata Trump.
Xi dan Trump juga bertemu tahun lalu di sela-sela KTT APEC di Busan, Korea Selatan.
Presiden China itu menggelar upacara penyambutan dan jamuan makan untuk Trump, serta keduanya mengadakan pembicaraan dan mengunjungi Temple of Heaven pada Kamis.
Kedua pemimpin juga mengikuti upacara penyambutan dan foto persahabatan pada Jumat, sebelum Xi menjamu Trump dalam sesi teh bilateral dan makan siang kerja.
Trump dijadwalkan meninggalkan Beijing setelah agenda tersebut.
Kunjungan ini berlangsung di tengah konflik Timur Tengah yang dipicu setelah pasukan AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, yang memicu balasan terhadap Israel dan sekutu AS di Teluk serta penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata tanpa batas waktu saat ini dilaporkan masih berlaku.

















