Para pemimpin dari 22 masyarakat adat dari lima benua berkumpul di Chili untuk berdoa bagi alam pada akhir ziarah selama 46 hari yang dilakukan di seluruh dunia.
Para "tetua adat" melaksanakan upacara leluhur dari masyarakat Anasazi, yang dahulu tinggal di Chaco Canyon sebelum kedatangan bangsa Eropa di wilayah yang kini menjadi negara bagian New Mexico, Amerika Serikat.
Ritual ini, untuk pertama kalinya, menyatukan masyarakat adat dari seluruh dunia dalam sebuah perjalanan yang dimulai di Italia, melewati India, Australia, dan Zimbabwe, sebelum berakhir di Chili.
Selama upacara penutupan, perwakilan dari masyarakat seperti Khalkha dari Mongolia, Noke Koi dari Brasil, dan Kallawaya dari Bolivia menyanyi, menari, dan berdoa mengikuti irama drum di sekitar altar tempat mereka menyalakan api suci.
"Bulu-bulu ini mewakili benua-benua, dan hari ini, untuk pertama kalinya, kita memiliki lima benua," kata Heriberto Villasenor, direktur Raices de la Tierra, sebuah LSM yang didedikasikan untuk pelestarian budaya adat.
Krisis Iklim
Pada akhir acara, para pemimpin saling berpelukan dan menyampaikan pesan, menyerukan perhatian yang lebih besar terhadap lingkungan.
"Kita adalah bagian dari alam. Kita tidak terpisah darinya. Kita berada di momen kritis ketika begitu banyak kerusakan telah terjadi, sebagian besar disebabkan oleh tangan manusia," kata Rutendo Ngara, 49 tahun, perwakilan dari kelompok Oba Umbuntu asal Afrika Selatan, kepada AFP.
Para pemimpin juga berbagi kekhawatiran mereka tentang apa yang terjadi di wilayah asal mereka.
"Sayangnya, mereka mencoba mengekstraksi uranium di Mongolia. Ini adalah elemen penting yang seharusnya tetap berada di bawah tanah," kata Tsegi Batmunkh.
Pada Januari 2025, kelompok nuklir Prancis Orano menandatangani perjanjian dengan Mongolia untuk mengeksploitasi deposit uranium besar di barat daya negara tersebut.
Pemimpin masyarakat Noke Koi dari Brasil, Yama Nomanawa, menyerukan penghentian "penghancuran Bumi," khususnya di wilayah lembah Amazon.
Menurut sebuah studi tahun 2024 yang diterbitkan di jurnal Nature, para ilmuwan memperkirakan bahwa antara 10 hingga 47 persen wilayah Amazon akan terkena dampak kehilangan hutan pada tahun 2050, yang dapat menyebabkan perubahan ekosistem secara luas.
"Bumi berteriak sangat keras, tetapi tidak ada yang mendengarkan. Hutan berteriak; ia tidak dihormati oleh manusia. Mari kita lindungi kehidupan, selamatkan kehidupan di planet ini," kata pemimpin adat Brasil berusia 37 tahun tersebut.


















