Umrah: Perjalanan panjang saya menuju Ka'bah yang suci

Disebut sebagai “perjalanan terbesar seumur hidup” oleh musafir abad ke-14, Ibnu Batutah, ibadah ke Ka'bah telah menjadi sumber berkah bagi umat Muslim selama berabad-abad. Inilah kisah perjalanan saya menuju tanah suci itu.

By Sherife Slocum Arslan
Umrah: Perjalanan yang sudah lama saya nantikan ke Baitullah.

“Labbayk, Allahumma labbayk! Labbayk, la syarika laka, labbayk! Innal-hamda, wan-ni‘mata, laka wal-mulk. La syarika lak.”

Secara harfiah berarti, “Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku datang. Engkau tidak memiliki sekutu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Segala puji dan nikmat adalah milik-Mu, begitu pula kerajaan. Engkau sungguh tidak memiliki sekutu.” Kalimat-kalimat kuat inilah yang kami, para jemaah, lantunkan terus-menerus dengan suara lantang dan serempak saat hampir 300 orang di antara kami menaiki pesawat untuk menjalankan “Umrah Rajab” menuju Ka'bah — situs paling suci dalam Islam.

Seperti dalam semua amalan Islam, ibadah dimulai dengan pengucapan niat. Setelah menyatakan niat di bandara, kami naik pesawat dalam keadaan ihram — keadaan suci lahir batin yang menjadi syarat utama sebelum menjalankan ibadah yang begitu berarti ini.

Para pria mengenakan dua helai kain putih tanpa jahitan yang menyerupai handuk tipis: satu membalut tubuh dari pinggang hingga lutut, satu lagi disampirkan di bagian atas tubuh. Kepala tetap terbuka. Para perempuan diperbolehkan memakai pakaian biasa selama memenuhi syarat kesopanan dalam agama, namun saat memasuki area Ka'bah, wajah harus dibiarkan terbuka. Dalam keadaan ihram, kami juga dilarang memotong rambut atau kuku, memakai wewangian, memburu hewan, atau melakukan hubungan suami-istri.

Selain mengikuti tuntunan lahiriah sebagaimana dicontohkan Nabi, kami juga dianjurkan untuk menjauhi urusan duniawi, menahan diri dari ucapan tak pantas, bersikap lembut, dan saling berbagi makanan. Semua ini dimaksudkan untuk membantu kami menemukan dimensi batin yang hadir di balik batasan-batasan luar tersebut.

Meski terdengar sederhana, kami segera menyadari betapa besar pengaruh keadaan ihram terhadap kesadaran diri dan semangat kolektif ribuan orang yang menjalaninya secara bersamaan.

Saat pesawat bersiap mendarat di Jeddah, guratan bukit pasir berwarna kayu manis terlihat jelas dari jendela. Lantunan “Labbayk” yang terus kami ulang membuat suasana hening menyelimuti. Seolah waktu berhenti, seolah kami semua tengah melakukan perjalanan terakhir kami, seolah kami sedang menuju momen terpenting dalam hidup.

Saya tidak menyangka bahwa firasat itu, dalam banyak hal, bersifat profetik — karena pengalaman yang menanti kami benar-benar jauh melampaui apa pun yang pernah saya rasakan.

Perjalanan dimulai

Setiba di Jeddah, kami melanjutkan perjalanan darat sekitar satu setengah jam menuju Ka'bah, “Rumah Allah”, bangunan yang diyakini sebagai tempat ibadah pertama di muka bumi, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya rumah (ibadah) yang mula-mula dibangun untuk manusia ialah Bakkah (nama kuno Makkah), yang penuh berkah dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam” (Ali Imran, 3:97).

Bangunan suci yang telah dikelilingi para peziarah selama ribuan tahun itu merupakan salah satu dari dua tempat tersuci dalam Islam, selain Masjid Nabawi di Madinah, tempat makam Nabi Muhammad. Rencana kami adalah mengunjungi Makkah terlebih dahulu sebelum menuju Madinah.

Sepanjang perjalanan, pemandangan yang tertangkap dari balik jendela mobil mengingatkan pada Arab kuno, pada cara hidup yang telah lama berlalu, meski lekuk-lekuk bukit dan hamparan gurun tetap abadi.

Langit yang berawan dan pucat memberi siluet warna cokelat dan abu-abu pada bukit-bukit berbatu, terkadang berpendar keunguan ketika sinar matahari menembus celah awan. Di antara hamparan pasir yang baru saja diselimuti rumput hijau tipis akibat hujan tak biasa, saya beberapa kali melihat kawanan kambing hitam yang digiring seorang penggembala, berjalan perlahan menelusuri perbukitan gurun.

Di punggung bukit lain, saya melihat mobil SUV yang diparkir di tempat yang tampak seperti tengah-tengah kehampaan. Para pria duduk bersandar di atas karpet, satu kaki terlipat, tangan kanan bertumpu di lutut, ujung keffiyeh mereka berkibar tertiup angin sementara anak-anak berlarian di sekeliling.

Meski gurun yang luas terasa mengintimidasi — seperti gelombang samudra yang membeku — keluarga-keluarga itu tampak tenang sepenuhnya, seolah berada di habitat alami mereka.

Keterasingan gurun perlahan berganti dengan jajaran gedung tinggi: beberapa baru dibangun tetapi belum digunakan, sementara yang lain tampak usang dan terbengkalai.

Tak lama kemudian, semakin dekat dengan Masjidil Haram, bangunan-bangunan gersang itu digantikan cahaya terang dan kemegahan deretan hotel menjulang yang mengitari situs suci — pembangunan yang dahulu dilarang karena dianggap merusak kehormatan Ka'bah yang bersahaja.

Kehadiran kapitalisme modern di sekitar Ka'bah memang menjadi tantangan dalam menjaga fokus batin. Namun, mengingat kembali kisah Nabi Muhammad menghancurkan 360 berhala yang mengelilingi Ka'bah ketika beliau memasuki Makkah — semuanya jatuh tersungkur layaknya sujud — saya mengingatkan diri bahwa justru inilah kesempatan untuk membersihkan hati dari kesan dunia modern yang mencemari. Perubahan sejati tidak bergantung pada ruang fisik; semakin dalam seseorang menggali dirinya, semakin besar transformasi yang terjadi.

Setelah kami beristirahat di hotel, saya dan suami berjalan menuju pintu masuk Masjidil Haram yang dindingnya berlapis marmer abu-putih khas, dengan sembilan menara menjulang. Kami mengikuti arus ribuan peziarah seperti gelombang manusia, masing-masing membawa warna dan karakter berbeda dari 1,8 miliar Muslim di dunia.

Sebagian mungkin menabung seumur hidup untuk sampai ke sini; sebagian lain datang hanya untuk kunjungan singkat. Namun semua hadir untuk satu tujuan: berdiri di hadapan Ka'bah dan mengelilinginya sebagaimana dilakukan Nabi — bagian dari menyempurnakan ibadah umrah.

Saat kami memasuki Gerbang Raja Fahd dan berjalan di bawah tiang-tiang besar masjid, saya melihat sekilas kain hitam Ka'bah dan mempersiapkan diri untuk momen yang telah saya nantikan selama bertahun-tahun.

Suami bertanya, “Kamu siap?” merujuk pada doa yang dibacakan saat melihat Ka'bah untuk pertama kali — doa yang diyakini tak akan ditolak. “Siap,” jawab saya perlahan, meski jantung saya berdebar kencang.

Namun di balik jawaban itu, saya diliputi rasa gentar—takut bahwa saya tidak layak. Tetapi ada juga ketenangan yang halus, rasa nyaman akan rahmat Tuhan yang tak bertepi.

Dan di sanalah Ka'bah, berdiri tepat di hadapan: sebuah kubus sederhana berselimut kain hitam bertatahkan ayat-ayat emas. Meski bentuknya sederhana, Ka'bah sangat memukau dan menggetarkan.

Muhammad Asad, seorang Yahudi Austria-Hongaria yang kemudian masuk Islam dan berhaji pada 1927, menulis dalam “The Road to Mecca” bahwa bentuk paling sederhana justru paling mampu menggambarkan kemuliaan Tuhan. Dengan bentuk kubus yang merepresentasikan empat elemen dasar kehidupan, Ka'bah mencerminkan gagasan itu dengan sempurna.

Bangunan yang selama ini saya hadapi setiap kali berdoa kini berdiri nyata di depan mata.

Dibangun mengikuti gambaran “Rumah yang Dikunjungi” di langit — tempat para malaikat terus bersirkulasi — Ka'bah menyimpan aura kesucian yang telah bertahan ribuan tahun. Kehadirannya terasa begitu kuat, seperti tarikan magnetik yang sulit digambarkan.

Seperti berada di pusat sarang lebah, sumber energi dan kehidupan, ada denyut halus yang mengarahkan gerakan manusia di sekitarnya, selaras dengan detak jantung sendiri.

Di tengah keramaian, saya justru menyadari ketunggalan diri saya di hadapan Tuhan. Ribuan orang berada di sini, tetapi masing-masing membawa catatan hidup yang berbeda: dosa yang hendak dihapus, harapan yang ingin dipanjatkan, atau syukur yang ingin diungkapkan.

Tak ada tempat bersembunyi dari kebenaran diri sendiri, membuat mustahil bagi saya untuk teralihkan—terutama dari diri saya sendiri. Mungkin itulah mengapa waktu terasa seolah berhenti: karena semua orang, untuk sesaat, hanya fokus pada hal yang benar-benar penting.

Di ujung Bab al-‘Umrah, salah satu dari 20 gerbang besar masjid, kami mengangkat tangan dan memanjatkan doa-doa terdalam dari hati kami, percaya bahwa semua itu akan diterima.

Tak lama kemudian, kami mulai mengelilingi Ka'bah berlawanan arah jarum jam, memulai tiap putaran dengan mengangkat tangan sebagai penghormatan kepada Hajar Aswad — batu yang dipercaya diberikan kepada Nabi Adam. Batu yang dahulu putih itu kini menghitam karena dosa manusia yang menyentuhnya. Mereka yang berhasil mendekat akan menyentuh atau menciumnya sebagai bentuk penghormatan, bukan penyembahan.

Melihat sekeliling, rentang pengalaman manusia tampak begitu luas. Ada yang muda dan kuat, ada yang renta dan berjalan terpincang. Ada yang baru pertama kali datang, ada yang mungkin melakukan perjalanan terakhir. Ada perempuan yang sedang hamil, membawa rasa syukur, sementara yang lain menggendong bayi mereka. Anak kecil duduk di bahu ayah, sebagian berjalan dengan kaki mungil mereka, terpukau oleh pemandangan.

Sebagian membawa beban hidup, sebagian membawa harapan. Ada yang memohon kesabaran dan ampunan, ada yang memanjatkan rasa syukur. Ada yang menangis, ada yang berdoa keras-keras, ada pula yang menunduk diam, hanya membuka diri sepenuhnya di hadapan Tuhan.

Apa pun latar belakangnya, para pria — dalam pakaian putih sederhana yang mirip kain kafan, bahu kanan terbuka, kepala dan kaki tak tertutup — dan para perempuan dalam pakaian keseharian, semuanya setara dan berjalan di hadapan Tuhan dengan tujuan sama.

Tak heran Malcolm X, aktivis hak sipil Amerika yang masuk Islam, mengungkapkan bahwa setelah berhaji pada 1964, untuk pertama kalinya ia merasa menjadi “manusia seutuhnya.”

Setiap kali mata saya bertemu mata jemaah lain, ada rasa kedekatan yang sulit dijelaskan, meski kami tak saling kenal. Kami semua rela membuka kerentanan kami, berjalan bersama dalam gerakan yang sama, dengan tujuan yang sama.

Saat saya melanjutkan tawaf, saya tiba di dekat Maqam Ibrahim, penanda tempat batu yang memiliki jejak kaki Nabi Ibrahim saat beliau berdiri untuk menaikkan bangunan Ka'bah. Saya mengamatinya dengan saksama. Jejak itu sangat manusiawi—bukan ukuran raksasa atau bentuk yang luar biasa. Justru itu yang membuatnya begitu menghibur: seorang nabi tetaplah manusia, sama seperti jutaan peziarah yang datang menghormatinya.

Setelah tujuh putaran selesai, kami minum air Zamzam—air yang memancar dari bawah kaki kecil Nabi Ismail saat ibunya, Hajar, berlari antara bukit Safa dan Marwa mencari air. Hajar khawatir air itu tak akan berhenti, lalu berkata, “Zome, zome” (berhenti, berhenti), sehingga air itu dinamai Zamzam.

Kami salat dua rakaat, lalu memulai sa‘i — perjalanan bolak-balik antara Safa dan Marwa, sebagai penghormatan atas perjuangan Hajar.

Saat memasuki jalur sa‘i, saya yang telah terbawa oleh gambaran klasik dari Muhammad Asad dan Martin Lings, agak kaget melihat koridor marmer panjang dengan pencahayaan terang dan petunjuk arah seperti jalan raya modern.

Saya merindukan peninggalan masa lalu yang nyata, tetapi saya kembali mengingat bahwa perjalanan ini bukan tentang memaksa ruang untuk memenuhi imajinasi saya, melainkan tentang memahami hikmah abadi di balik perjuangan Hajar.

Mas‘a dipenuhi suasana urgensi, seolah seluruh manusia tengah berlomba memenuhi janji terakhir mereka. Para lansia didorong dengan kursi roda; ibu-ibu dengan kereta bayi kembar tetap berusaha menyelesaikan perjalanan. Meski ribuan orang bergerak dalam ruang yang sama, ada ketertiban dan ketenangan yang sulit dijelaskan.

Saya melihat seorang pria paruh baya menopang pria lain yang tampak berusia hampir 80 tahun, berjalan terpincang tetapi bertekad kuat menyelesaikan sa‘i. Begitu saya perhatikan lebih dekat, ternyata itu ayah dan anak — berbagi “perjalanan seumur hidup.”

Setelah sekitar dua setengah jam, tujuh putaran selesai. Kami memotong sedikit rambut sebagai penanda berakhirnya umrah, lalu berdoa agar diterima.

Malam berikutnya adalah “Lailat al-Raghaib,” malam suci penuh harapan yang menandai awal Rajab, bulan pertama dari tiga bulan suci. Umat Muslim percaya malam ini penuh peluang untuk memohon ampunan.

F.E. Peters dalam “The Hajj” menggambarkan, berdasarkan catatan Ibnu Jubayr pada abad ke-12, bahwa malam ini dahulu dirayakan dengan meriah: jalanan Makkah dipenuhi unta dengan tandu berhiaskan sutra dan lampu obor. Kini, kemeriahan seperti itu tak lagi terlihat di tanah suci, meski masih dirayakan di tempat lain.

Namun bagi kami, malam itu tetap menjadi kesempatan istimewa. Kami memutuskan menghabiskan malam di Masjidil Haram setelah salat Isya hingga Subuh.

Masjid sangat padat malam sebelumnya, jadi kami berharap di tengah malam bisa mendekat ke Ka'bah. Tidak kami sangka, malam itu membawa hadiah besar.

Saat bertawaf, tiba-tiba jalur di depan kami terbuka. Suami menjaga saya agar tetap di depannya, dan tanpa disadari, kami terus terdorong hingga ke lingkar terdepan. Tak lama, hanya satu orang yang memisahkan saya dari dinding Ka'bah. Melihat orang-orang berusaha keras mencium dinding, saya sadar: “Ini saatnya.”

Saya ulurkan tangan, dan menyentuhnya.

Batu itu hangat, lembut, lembap oleh air mata ribuan peziarah sebelumnya. Saya menempelkan tangan beberapa saat, menyerap seluruh sensasi. Lalu arus manusia kembali menyeret saya menjauh. Momen itu singkat, tetapi saya tahu ia akan melekat selamanya.

Sisa malam itu kami habiskan dengan berdoa, membaca Al-Qur’an, dan menyampaikan doa-doa titipan dari orang-orang yang mempercayakan doa mereka kepada kami.

Menjelang Subuh, adzan merdu bergema melalui 210 pintu masjid seluas 88 hektare itu. Burung-burung terbang mengitari Ka'bah, hinggap pada kainnya, lalu terbang lagi. Ketika imam memulai salat, satu seruan “Allahu Akbar!” mempersatukan ratusan ribu orang dalam satu gerakan yang sama — berdiri, ruku, sujud, semuanya menghadap satu titik suci.

Pelajaran dan berkah yang menetap

Perjalanan kami ke Makkah jelas tidak menempuh waktu bertahun seperti para musafir dulu, juga tidak melewati rintangan berat seperti berjalan kaki atau menunggang unta sambil menghadapi ancaman perampok. Tidak pula sama dengan pengalaman Muhammad Asad, Martin Lings, atau Malcolm X.

Dengan perubahan zaman, banyak hal tak lagi sama. Penemuan minyak dan modernisasi mengubah lingkungan sekitar Ka'bah: lantai marmer, eskalator, tanda-tanda seperti kota modern.

Namun sebagaimana disampaikan banyak tokoh Muslim, ada dimensi vertikal dalam ibadah haji dan umrah yang tidak pernah berubah — selama seseorang mencari dan membukanya dari dalam.

Perjalanan kami juga memiliki tantangan tersendiri. Kami termasuk kelompok pertama yang kembali setelah pandemi Covid-19, dan justru terinfeksi varian virus yang membuat badan terasa sakit, demam, hingga nyeri tenggorokan. Namun saya mengingatkan diri bahwa ujian adalah bagian dari ibadah. Jika pulang dalam keadaan suci tanpa dosa, tentu ada harga yang harus dibayar.

Imam al-Ghazali menulis dalam Ihya’ Ulumuddin bahwa seseorang harus ridha atas pengorbanan dan rasa sakit yang dialami, karena itu tanda bahwa ibadahnya diterima. “Setiap rasa sakit, setiap kehilangan, ada ganjarannya di sisi Allah.”

Ziarah ke Ka'bah adalah jawaban atas panggilan Ilahi. Namun dalam Islam, tidak ada perantara antara manusia dan Tuhan. Lima kali sehari, dalam setiap salat, seseorang diberikan kesempatan untuk terhubung dan memohon langsung kepada-Nya: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya” (Ghafir: 60).

Dengan gema adzan yang masih teringat jelas, kami pun berpamitan dari Ka'bah. Namun denyut yang mengelilinginya dan rasa tenang yang diberikannya tetap tinggal dalam diri kami, siap kami rasakan setiap kali kami menghadap kiblat — di mana pun kami berada.