Bagaimana mobil merah dari Azerbaijan menjadi simbol solidaritas Turkik usai gempa bumi Türkiye 2023
Di balik misi penyelamatan negara, kisah mobil merah tua rusak milik seorang warga desa yang membawa selimut melintasi perbatasan ungkapkan bagaimana persaudaraan Turkik berubah menjadi aksi nyata bagi para korban gempa bumi di Türkiye.
Beberapa hari setelah gempa 6 Februari 2023, Server Besirli mengikat beberapa kasur dan selimut di atap mobil merah tuanya. Setelah mengibarkan bendera Türkiye di sisinya, ia mengemudi lebih dari 1.600 km dari rumah desanya yang kecil, Ceyranbatan dekat Baku di Azerbaijan, menuju kota Kahramanmaras di bagian tengah selatan Türkiye, tempat terjadi gempa dahsyat berkekuatan M7,8.
Tidak ada konvoi yang menunggunya, tidak ada kamera, tidak ada koordinasi resmi. Membawa perlengkapan tidur yang diambil dari rumahnya sendiri, ia tidak datang untuk pamer atau menjadi pahlawan, melainkan untuk membantu orang-orang yang ia rasakan memiliki ikatan dengannya.
Namun dalam beberapa hari, sebuah foto mobil itu—atapnya ditumpuk tinggi, mesinnya berusaha mendorong maju—beredar di media sosial dan layar televisi. Dalam bencana yang ditandai oleh runtuhnya bangunan dan kerugian besar, dengan lebih dari 50.000 orang tewas dan 100.000 lainnya luka-luka, tindakan sederhana Besirli dipicu oleh “niat untuk berdiri di samping negara saudara kami” dan melakukan “apa pun yang ada dalam kemampuan kami.”
Besirli, 35 tahun, keturunan pengungsi perang Karabakh dari konflik Karabakh, menjelaskan motivasinya kepada TRT World: “Kami sendiri telah melewati masa-masa yang sangat sulit....Saya berasal dari Karabakh. Pada 1992, kami juga dipaksa mengungsi saat salju dan musim dingin, tanpa pakaian atau sepatu yang memadai, kami menjadi terlantar. Ketika bencana ini menimpa negara saudara kami pada 6 Februari, hal pertama yang terlintas dalam pikiran kami adalah pakaian hangat dan perlengkapan tidur hangat. Itu yang bisa kami lakukan.”
Bagi Besirli, ini bukan sedekah; ini adalah ingatan.
“Itulah sebabnya, dengan niat berdiri di samping negara saudara kami, kami mencoba melakukan apa pun yang ada dalam kemampuan kami,” tambahnya.
Pada saat itu, ia tidak menyadari bahwa ada yang memperhatikan perjalanannya. Foto mobil merahnya diambil di tepi jalan, dibagikan di media sosial, dan dengan cepat menjadi viral beberapa hari kemudian.
“Saya kemudian mendengar dan melihatnya di televisi,” kenang Besirli. “Mobil merah saya menjadi simbol.”
Gempa dahsyat yang melanda Kahramanmaras pada 6 Februari 2023 memengaruhi 11 provinsi dan membuat hampir 14 juta orang hidupnya terseret hancur. Peristiwa itu menjadi salah satu bab tergelap dalam sejarah mutakhir Türkiye. Namun juga menjadi momen penentu bagi dunia Turkik, menunjukkan betapa kuatnya sejarah bersama, ingatan budaya, dan rasa persaudaraan yang mendalam dapat diterjemahkan menjadi tindakan.
Sejak jam-jam pertama bencana, negara-negara Turkik bergerak dengan kecepatan dan komitmen yang luar biasa. Azerbaijan, Kazakhstan, Uzbekistan, Kirgizstan, dan Turkmenistan mengirimkan tim pencarian dan penyelamatan, tenaga medis, konvoi kemanusiaan, dan kemudian dukungan rekonstruksi jangka panjang.
Namun selain respons resmi, tindakan spontan orang-orang biasa seperti Besirli yang paling menyentuh.
Asisten profesor Basak Kuzakci dari Universitas Marmara di Istanbul mengatakan kepada TRT World bahwa respons itu melampaui bantuan kemanusiaan konvensional: “Mulai dari jam-jam pertama, Dunia Turkik mendampingi Türkiye tidak hanya melalui ucapan belasungkawa, tetapi dengan kehadiran di lapangan, bantuan kemanusiaan, dan kontribusi jangka panjang untuk pemulihan dan rekonstruksi.”
Ia menambahkan bahwa hal itu menandai “titik balik bersejarah.”
Kesatuan di bawah reruntuhan
Operasi penyelamatan berlangsung di bawah kondisi yang sangat keras. Turun salju lebat, suhu beku, dan kehancuran yang luas sangat menghambat akses ke bangunan yang runtuh. Tim penyelamat, tentara, polisi, relawan, dan warga sipil bekerja berdampingan, seringkali dengan risiko pribadi yang besar.
Di seluruh Türkiye, masjid, sekolah, dan rumah diubah menjadi pusat bantuan. Tim penyelamat internasional datang dari berbagai penjuru dunia. Namun di antara mereka, respons Azerbaijan menonjol baik dari segi skala maupun simbolisme.
Dalam minggu pertama, Azerbaijan mengirimkan lebih dari 1.500 ton bantuan kemanusiaan, mengerahkan kontingen pencarian dan penyelamatan asing terbesar, dan meluncurkan kampanye donasi di seluruh negeri. Ungkapan yang sering diulang “satu bangsa, dua negara” melampaui retorika dan terlihat dalam tindakan.
Menurut Kuzakci, respons dunia Turkik tidak bisa dipahami sebagai hubungan sederhana donor–penerima: “Dukungan yang diberikan kepada Türkiye dibentuk oleh ingatan budaya, ikatan sejarah, dan visi bersama untuk masa depan. Dari Turkestan hingga Kaukasus, geografi luas ini memandang gempa bukan sebagai tragedi Türkiye semata, melainkan sebagai ujian kolektif bagi seluruh Dunia Turkik.”
Pemahaman itu berlanjut ke fase rekonstruksi. Di Hatay, salah satu dari 11 provinsi yang terdampak, lebih dari 3.000 unit hunian baru baru-baru ini diserahkan kepada penyintas gempa. Serah terima berlangsung dalam sebuah upacara yang dihadiri bersama oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev—tanda yang jelas bahwa pembangunan kembali juga dipandang sebagai tanggung jawab bersama.
Saat ini, mobil merah Besirli masih bersamanya, dan hidup dalam ingatan publik sebagai lebih dari sekadar kendaraan. Mobil itu mewakili pengorbanan tanpa berlebihan, solidaritas tanpa mengharapkan balasan, dan persaudaraan yang dibuktikan melalui tindakan. Banyak pihak di Türkiye menyarankan mobil itu dipelihara di museum sebagai penghormatan yang tahan lama.
Meskipun Besirli kemudian menerima mobil baru dan dukungan untuk membangun kembali rumah sederhananya, nilai sejati dari gesturnya terletak di tempat lain. Saat ingatan tentang bencana perlahan memudar, gambaran mobil merah, penuh selimut dan harapan, tetap bertahan.
Akhirnya, respons dunia Turkik terhadap gempa 6 Februari 2023 memperlihatkan bahwa solidaritas tidak ditentukan oleh geografi atau protokol, melainkan oleh ingatan bersama, empati, dan tindakan.
Yang bertahan setelah reruntuhan bukan hanya kota-kota yang dibangun kembali, tetapi rasa persaudaraan yang ditegaskan kembali—yang mengubah duka menjadi kesatuan dan menunjukkan bahwa dalam menghadapi bencana, dunia Turkik berdiri bukan sebagai negara-negara terpisah, melainkan sebagai satu komunitas yang terikat oleh tanggung jawab, kasih sayang, dan ikatan kemanusiaan yang tak terputuskan.