Indonesia menuntut investigasi PBB atas kematian pasukan penjaga perdamaian: dubes

Akhir pekan berdarah menewaskan tiga pasukan perdamaian Indonesia, jurnalis Lebanon, serta tenaga medis akibat serangan Israel di selatan Lebanon.

By
Sebuah meriam howitzer Israel menembakkan peluru ke arah Lebanon selatan di Israel utara dekat perbatasan pada 26 Maret 2026. / AFP Archive

Indonesia meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan penyelidikan atas kematian tiga pasukan perdamaian UNIFIL-nya menyusul serangan Israel di selatan Lebanon, kata seorang pejabat kementerian luar negeri dalam pernyataan yang dipublikasikan pada Rabu.

Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB, Umar Hadi, menyampaikan pernyataan tersebut dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan pada Selasa.

“Kami menuntut penyelidikan langsung dari PBB, bukan sekadar alasan dari Israel,” ujarnya.

Indonesia sebelumnya menyatakan bahwa operasi militer Israel yang masih berlangsung menempatkan pasukan perdamaian PBB di Lebanon pada risiko yang sangat tinggi.

Para pasukan perdamaian Indonesia tewas dalam dua insiden terpisah di selatan Lebanon setelah akhir pekan berdarah yang juga menewaskan jurnalis dan tenaga medis Lebanon akibat serangan Israel.

Ledakan di pinggir jalan diduga mengenai konvoi dua pasukan perdamaian Indonesia yang tewas di selatan Lebanon pada Senin, kata kepala operasi perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, Selasa, mengutip temuan awal penyelidikan.

Militer Israel menyatakan pada Selasa bahwa peninjauan atas insiden yang melibatkan pasukan UNIFIL pada Senin menyimpulkan bahwa pasukan Israel tidak menempatkan perangkat peledak di lokasi dan tidak ada tentara Israel yang berada di sana.

Indonesia menyumbang lebih dari 2.700 personel berseragam untuk operasi perdamaian PBB, termasuk salah satu kontributor terbesar secara global, kata PBB pada 2024.

Indonesia juga berkomitmen untuk menyiapkan pasukan bagi kemungkinan penugasan di Gaza sebagai bagian dari Pasukan Internasional Multinasional Penstabilan yang dimandatkan PBB.