Indonesia dan Amerika Serikat terus memperluas kerja sama pertahanan melalui Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) 2026, yang mencakup pendidikan militer, latihan gabungan, dan pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Atase Pertahanan RI di Washington, Marsekal Pertama TNI Yose Ridha, mengatakan sebagaimana dikutip oleh Antara bahwa MDCP yang ditandatangani pada 13 April 2026 lalu menjadi landasan untuk meningkatkan kapasitas personel dan interoperabilitas kedua angkatan bersenjata.
Kerja sama pendidikan memungkinkan perwira TNI menempuh studi di sejumlah lembaga militer AS, termasuk National Defense University, Naval War College, serta akademi militer di West Point dan Annapolis.
Kedua negara juga mengikuti sejumlah latihan bersama sepanjang 2026, di antaranya Super Garuda Shield, RIMPAC di Hawaii, Cope West, Multilateral Naval Exercise Komodo, dan Keris-MAREX yang melibatkan Korps Marinir TNI AL dan US Marine Corps.

Di bidang alutsista, Indonesia telah menerima 12 unit pertama kendaraan tempur amfibi AA M-35 dari total 105 unit yang direncanakan untuk Korps Marinir TNI AL.
Kerja sama lainnya mencakup rencana pembangunan helikopter Bell dan Black Hawk serta pengadaan mesin General Electric untuk pesawat CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia.
Mengutip laporan Antara, perkembangan tersebut disampaikan dalam peringatan HUT ke-81 TNI di Kedutaan Besar RI di Washington DC, Jumat (9/10), yang dihadiri Duta Besar RI untuk AS Indroyono Soesilo. Yose menegaskan kembali jati diri TNI sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional, dan Tentara Profesional.
Indroyono juga menggarisbawahi kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian internasional melalui Kontingen Garuda, yang pertama kali dikirim ke Mesir pada 1957. Acara tersebut turut memberikan penghargaan kepada keluarga prajurit, khususnya para istri, atas dukungan mereka dalam pengabdian TNI kepada negara.






















