Türkiye bergabung dengan perjanjian perlindungan lautan global utama yang mulai berlaku
Perjanjian Laut Lepas menandai era baru bagi perlindungan keanekaragaman hayati laut di perairan internasional, menetapkan kerangka hukum untuk mengatur kegiatan, termasuk larangan penangkapan ikan, di suaka yang ditetapkan.
Perjanjian Laut Lepas (High Seas Treaty) yang bersejarah, yang secara resmi dikenal sebagai perjanjian Biodiversity Beyond National Jurisdiction (BBNJ), akan mulai berlaku pada hari Sabtu, 17 Januari, setelah mengamankan 60 ratifikasi yang dibutuhkan, menandai langkah besar menuju perlindungan keanekaragaman hayati laut di perairan internasional.
Perjanjian yang diadopsi oleh PBB pada 2023 itu menetapkan kerangka hukum untuk menciptakan kawasan terlindungi di laut lepas dan mewajibkan penilaian dampak lingkungan untuk kegiatan yang berpotensi merusak ekosistem laut yang rapuh.
Hingga kini, laut lepas, yang mencakup sekitar dua pertiga dari lautan dunia, tidak memiliki perlindungan hukum yang komprehensif, dengan langkah-langkah konservasi sebagian besar terbatas pada perairan nasional dan pesisir.
Türkiye sebagai pihak dalam perjanjian
Secara global, sekitar 16.600 kawasan dilindungi laut mencakup 9,6 persen dari lautan dunia, tetapi hanya 3,2 persen yang dilindungi secara ketat atau sepenuhnya dengan batasan ketat terhadap aktivitas seperti penangkapan ikan, menurut Marine Protection Atlas milik Marine Conservation Institute.
Berbicara kepada Anadolu, Bayram Ozturk, kepala Turkish Marine Research Foundation (TUDAV), menggambarkan perjanjian tersebut sebagai pembukaan era baru bagi perlindungan lautan global.
Ia menekankan bahwa kawasan terlindungi di laut lepas tidak melarang penangkapan ikan di seluruh perairan internasional, melainkan menciptakan kerangka hukum yang kuat untuk mengatur aktivitas, termasuk larangan total di kawasan suaka yang ditetapkan.
Implementasi efektif dari perjanjian BBNJ dapat secara signifikan melindungi keanekaragaman hayati di lautan lepas dan menutup celah besar dalam tata kelola laut, ujarnya.
Levent Bilgili dari Fakultas Studi Maritim Universitas Teknik Bursa mengatakan perjanjian itu akan mengharuskan kapal berbendera negara peserta dan operasi di perairan internasional memenuhi standar tanggung jawab dan perlindungan ekosistem yang lebih tinggi.
Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31), yang dijadwalkan berlangsung pada November, akan berlangsung terutama di Antalya di pantai Mediterania Türkiye, dengan pertemuan puncak pemimpin yang direncanakan di Istanbul.
Sebagai pihak pada perjanjian BBNJ, keterlibatan aktif Türkiye memperkuat posisinya sebagai tuan rumah COP31, di mana hubungan antara laut dan iklim diperkirakan akan menjadi agenda utama, kata Bilgili kepada Anadolu.